Kisah Mita, Perempuan Pesisir Kaltara yang Berdaya dan Naik Kelas Berkat Program M4CR
Abdul Rahman Ahdori
TARAKAN, (ERAKINI) - Kipas bambu bermotif batik khas Kalimantan Utara (Kaltara) menjadi salah satu produk kerajinan yang kini membawa perubahan bagi kehidupan Mita dan sejumlah perempuan di Desa Tengku Dacing, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung.
Di balik kipas yang tampak sederhana itu, tersimpan cerita tentang perjuangan perempuan pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus mengembangkan potensi ekonomi desa.
Mita, perempuan keturunan Bugis Makassar yang telah lama menetap di Desa Tengku Dacing, menjadi salah satu sosok penggerak perubahan tersebut.
"Saya sebenarnya pendatang, tapi sudah menjadi orang sini," ujarnya saat ditemui erakini pada acara Temu Media Bersama Masyarakat Binaan M4CR di Rumah Adat Tanah Merah, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, Selasa (3/11/2026),
Menikah dengan warga setempat membuat Mita menjalani kehidupan di kawasan pesisir yang dikelilingi hutan mangrove dan bakau. Namun, pada awalnya, dia belum membayangkan bahwa kekayaan alam di sekitarnya dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan masyarakat.
Kesempatan itu mulai terbuka pada 2024, ketika pemerintah melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bekerja sama dengan Bank Dunia menjalankan program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).
Program tersebut tidak hanya mendorong pemulihan ekosistem mangrove, tetapi juga melibatkan masyarakat sekitar untuk mengembangkan potensi ekonomi dari sumber daya alam yang tersedia.
Mita kemudian membentuk Kelompok Inggilad Taka dan mengajak sejumlah perempuan di desanya untuk mengembangkan usaha kerajinan berbahan bambu.
Dari Kipas Bambu Menjadi Sumber Penghasilan
Kini, Mita menjabat sebagai Ketua Kelompok Inggilad Taka. Bersama para anggotanya, dia mengembangkan produk kipas bambu bermotif batik yang menjadi salah satu kerajinan khas Kabupaten Tana Tidung.
Usaha tersebut perlahan berkembang. Tidak hanya menghasilkan produk kerajinan, kelompok ini juga membuka kesempatan bagi perempuan di sekitar desa untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan tambahan.
Mita mengaku, kehadiran M4CR memberikan perubahan besar bagi kelompoknya. Sebelum mendapatkan pendampingan dan bantuan program, mereka harus berjuang sendiri untuk mengembangkan usaha.
Bahkan, tidak semua anggota kelompok memiliki semangat yang sama karena belum ada kepastian penghasilan dari kegiatan produksi.
Namun, situasi tersebut mulai berubah setelah kelompoknya mendapatkan dukungan melalui skema matching grant atau bantuan pendanaan pendamping dari M4CR.
"Kalau sebelumnya kami masih berdiri sendiri, kadang ada ibu-ibu yang tidak mau bekerja karena mereka tidak mendapatkan penghasilan. Nah, dengan adanya bantuan M4CR melalui matching grant, kami sangat terbantu. Jadi, semangat ibu-ibu tumbuh kembali karena mendapatkan penghasilan tambahan," tutur Mita.
Program Mulai Berdampak
Mita menyebutkan, kelompoknya kini mampu mencatatkan omzet paling sedikit Rp5 juta setiap bulan. "Setiap bulan, alhamdulillah Rp5 juta ada," ucapnya.
Bagi Mita dan para anggota kelompok, angka tersebut bukan sekadar omzet usaha. Lebih dari itu, pendapatan tersebut menjadi bukti bahwa perempuan di kawasan pesisir juga memiliki kesempatan untuk mandiri secara ekonomi.
Produk Kipas Batik Tembus Pasar Luar Daerah
Perjalanan usaha kelompok Inggilad Taka tidak berhenti di lingkungan desa. Produk kipas bambu bermotif batik yang mereka hasilkan kini telah dipasarkan ke sejumlah wilayah di Kalimantan Utara, termasuk Tarakan. Bahkan, produk tersebut mulai menjangkau pasar di luar provinsi.
Mita mengungkapkan, salah satu kesempatan pemasaran yang diperoleh kelompoknya adalah melalui dukungan M4CR yang membuka akses pasar hingga ke Bali.
Sebelumnya, pemasaran juga dilakukan dengan menitipkan produk melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) serta melayani pembelian langsung dari masyarakat.
"Pemasarannya sudah banyak, Alhamdulillah ke beberapa daerah yang ada di Kaltara dan bahkan luar provinsi. Ini berkat M4CR," ujar Mita.
Menurut dia, kesempatan memperkenalkan produk hingga ke luar daerah menjadi pengalaman berharga bagi kelompoknya. Terlebih, kerajinan yang dihasilkan merupakan produk lokal dengan identitas budaya Kalimantan Utara yang memiliki potensi untuk dikenal lebih luas.
Berharap Usaha Terus Berkembang
Di balik perkembangan usaha tersebut, Mita menyadari bahwa perjalanan kelompoknya masih membutuhkan pendampingan. Selama mengikuti program M4CR, kelompok Inggilad Taka mendapatkan pendampingan dari tim M4CR. Pendampingan dilakukan secara berkala, baik setiap bulan maupun enam bulan sekali, untuk memantau perkembangan produk dan membantu memperluas pemasaran.
"Saat pendampingan ini, kami selalu ditanya mbak bagaimana produknya bagaimana perkembangan usahanya dan lain-lain," ujarnya.
Mita mengaku, perhatian dan pendampingan tersebut membuat kelompoknya merasa tidak berjalan sendirian. Karena itu, dia merasa sedih ketika mengetahui program M4CR akan berakhir di 2027.
Namun demikian, dia berharap pengalaman, keterampilan, dan bantuan peralatan yang telah diterima dapat menjadi modal untuk melanjutkan usaha secara mandiri.
Salah satu bantuan yang diterima kelompoknya adalah mesin 3 in 1. Peralatan tersebut akan dimanfaatkan untuk mengembangkan produk kerajinan baru sehingga usaha mereka tidak hanya bergantung pada produksi kipas bambu.
"Insyaallah ke depannya, dengan bantuan dari M4CR terutama kami dari kelompok Inggilad Taka, karena mendapatkan bantuan mesin 3 in 1, kami mungkin akan mengembangkan mesin ini dengan membuat produk baru," tuturnya.
Merasa Naik Kelas dan Berdaya
Bagi Mita, perubahan paling berarti dari kehadiran M4CR bukan hanya meningkatnya omzet atau meluasnya pemasaran produk. Program tersebut juga memberikan ruang bagi perempuan pesisir untuk menunjukkan kemampuan, membangun kepercayaan diri, dan mengambil peran dalam meningkatkan ekonomi keluarga.
Mita bahkan mengaku tidak menyangka kelompok kecil yang dibangunnya bisa berkembang hingga mendapat kesempatan memperkenalkan produk secara langsung dalam kegiatan yang dihadiri pejabat pemerintah.
Mita mengungkapkan kebahagiaannya karena dapat memperkenalkan Kelompok Inggilad Taka beserta produk kerajinannya.
"Menurut saya sangat luar biasa sekali. Saya tidak menyangka bisa berdiri langsung dengan Bapak Dirjen. Saya merasa bahagia juga bisa memperkenalkan kelompok Inggilad Taka, yaitu produk kami, kipas batik khas dari Kabupaten Tana Tidung," kata Mita.
Kini, Mita berharap usaha yang telah dirintis bersama para perempuan di desanya dapat terus berkembang meskipun pendampingan program M4CR berakhir.
Baginya, kipas bambu batik bukan sekadar kerajinan tangan. Produk tersebut menjadi simbol tumbuhnya kemandirian perempuan pesisir sekaligus bukti bahwa potensi desa dapat diolah menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.
Dari sebuah desa di pesisir Kalimantan Utara, Mita dan kelompoknya membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk berkarya dan memperluas pasar.
Untuk diketahui, program M4CR merupakan inisiatif strategis nasional untuk mengatasi degradasi ekosistem mangrove di Indonesia melalui rehabilitasi berskala besar dengan pendekatan berbasis masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Program ini dilaksanakan di 4 provinsi prioritas, yakni Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara, dengan target rehabilitasi mangrove seluas 32.634 hektar hingga 2027.
Sejak 2024, sebanyak 111 kelompok masyarakat di empat provinsi tersebut telah menerima dukungan usaha produktif dari M4CR. Khusus di Kalimantan Utara, tercatat 25 kelompok masyarakat telah mendapatkan bantuan.
Program M4CR dikelola Kemenhut dengan dukungan sejumlah kementerian dan lembaga, antara lain Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), serta pemerintah daerah. Pendanaan program ini juga didukung melalui kerja sama dengan Bank Dunia (World Bank).


















