Salurkan Rp534 Juta untuk UMKM Pesisir, Kemenhut Ingin Rehabilitasi Mangrove di Kaltara Berdampak ke Ekonomi Rakyat
Abdul Rahman Ahdori
TARAKAN, (ERAKINI) - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyalurkan bantuan usaha produktif senilai sekitar Rp534 juta kepada lima kelompok masyarakat di Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara). Bantuan melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) tersebut diberikan menggunakan skema matching grant atau hibah pendampingan.
Penyaluran bantuan dilakukan di sela-sela kegiatan Media Gathering M4CR Kalimantan Utara yang menjadi bagian dari Festival Mangrove Nasional (Mangrofest) 2026 di Paradise Hotel, Tarakan, Senin (2/11/2026) malam.
Kelima kelompok penerima bantuan tersebut yakni UMKM Imbaya Imbas, Kelompok Wanita Tani Bepakot, Kelompok Peternak Perintis, Kelompok Petani Tambak Nasional Sejahtera (KPTN Sejahtera), dan Kelompok UMKM Sukses Bersama.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kemenhut RI sekaligus Executive Director M4CR Project, Muhammad Zainal Arifin, mengatakan bahwa dengan adanya penyaluran bantuan tersebut, program M4CR tidak hanya berorientasi pada rehabilitasi ekosistem mangrove, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
"Kegiatan M4CR yang ingin menunjukkan bahwa kegiatan M4CR tidak hanya semata-mata untuk melakukan rehabilitasi mangrove, tetapi juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tutur Zaenal kepada wartawan.
"Jadi, konsen kita di ekologi dan juga konsen kita di sosial ekonomi," sambungnya.

Lebih lanjut, Zaenal menerangkan skema matching grant menjadi salah satu upaya untuk membangun kepercayaan masyarakat; bahwa program rehabilitasi mangrove dapat memberikan manfaat berkelanjutan.
Zainal juga bilang, Kaltara menjadi salah satu wilayah penting dalam pelaksanaan program M4CR, sebab, hampir 50 persen dari target program berada di wilayah perbatasan RI-Malaysia itu.
"Karena itulah Kemenhut ingin menjadikan pelaksanaan rehabilitasi mangrove di Kaltara sebagai contoh bagi daerah lain," katanya.
Sementara itu, Coastal Enterprise Coordinator M4CR, Nugroho Sulistyo, mengatakan, pihaknya telah berupaya mendorong produk-produk kelompok masyarakat agar dapat menembus pasar ekspor.
Menurut dia, sejumlah kelompok masyarakat memiliki potensi menghasilkan produk yang diminati pasar luar negeri. Namun, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah kendala.
"Kami mencoba menginventarisir kelompok kami untuk bisa ekspor, cuma kemudian banyak hambatan yang membuat ini belum terlaksana," kata Nugroho.
Meski demikian, pihaknya terus menjajaki peluang kerja sama dengan sejumlah perusahaan eksportir. Dia mencontohkan produk udang dari Tarakan yang secara tradisional telah dikenal dan diminati pasar luar negeri.
Udang tersebut memiliki nilai tambah karena dibudidayakan dengan penggunaan pakan yang relatif terbatas sehingga dikenal sebagai udang organik.
"Sejak dulu karena hasil udang, misalnya. Hasil udang di Tarakan itu kan terkenal disukai oleh luar negeri karena disebut udang organik, tidak banyak menggunakan pakan dan sebagainya. Nah, ini merupakan nilai tambah, nilai plus dari produk itu," tuturnya.

Kemudian, PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara, Akhmad Ashar Sarif, menilai, pendampingan dan dukungan usaha diberikan berdasarkan potensi serta kebutuhan kelompok masyarakat di masing-masing wilayah. Dia menegaskan bahwa setiap kelompok memiliki potensi dan tantangan usaha yang berbeda. Karena itu, dukungan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan.
"Dan tentunya harapannya, bantuan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas usaha dan membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat," kata dia.
Untuk diketahui, program M4CR merupakan inisiatif strategis nasional untuk mengatasi degradasi ekosistem mangrove di Indonesia melalui rehabilitasi berskala besar dengan pendekatan berbasis masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Program ini dilaksanakan di 4 provinsi prioritas, yakni Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara, dengan target rehabilitasi mangrove seluas 32.634 hektar hingga 2027.
Sejak 2024, sebanyak 111 kelompok masyarakat di empat provinsi tersebut telah menerima dukungan usaha produktif dari M4CR. Khusus di Kalimantan Utara, tercatat 25 kelompok masyarakat telah mendapatkan bantuan.
Adapun program M4CR dikelola Kemenhut dengan dukungan sejumlah kementerian dan lembaga, antara lain Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), serta pemerintah daerah. Pendanaan program ini juga didukung melalui kerja sama dengan Bank Dunia (World Bank).


















