Program M4CR Kemenhut Dorong Pulau di Kaltara Jadi Sehat, Produktif, dan Sejahtera
Abdul Rahman Ahdori






Melalui program tersebut, sejumlah pulau di Kaltara diharapkan menjadi kawasan yang sehat dan produktif, serta mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Hal itu disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kemenhut sekaligus Executive Director M4CR Project, Muhammad Zainal Arifin, dalam kegiatan Temu Media Bersama Masyarakat Binaan M4CR di Rumah Adat Tanah Merah, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, Selasa (3/11/2026).
"Dengan program M4CR pulau ini menjadi pulau yang sehat, produktif, masyarakatnya sejahtera," kata Zainal.
Dia menjelaskan, program M4CR berfokus pada rehabilitasi ekosistem mangrove yang mengalami degradasi di empat provinsi di Indonesia melalui pendekatan berbasis masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, Zainal mengajak masyarakat untuk terus menjaga kelestarian mangrove dan bakau di kawasan pesisir, khususnya pulau-pulau di Kalimantan Utara.
Menurut dia, keberadaan masyarakat adat dengan kearifan lokalnya memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove.
"Saya sudah menjelajahi tempat-tempat, daerah-daerah yang ada ekosistem mangrove-nya, yang punya masyarakat adat yang kuat, itu rata-rata ekosistem mangrove-nya juga terjaga," ujarnya.
Lebih lanjut, Zainal mengapresiasi masyarakat adat yang selama ini turut menjaga ekosistem pesisir melalui kearifan lokal. Dia menegaskan, keberhasilan program M4CR tidak hanya diukur dari kegiatan penanaman dan rehabilitasi mangrove, tetapi juga dari pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat sekitar.
"Ini ingin menyukseskan kegiatan ini tidak hanya dari kegiatan penanaman, tidak hanya rehabilitasi yang dilaporkan Pak Camat, tapi juga pengembangan industri atau usaha-usaha kecil, menengah, dan mikro di lingkungan masyarakat," ujar Zaenal.
Adapun salah satu bentuk dukungan yang ia maksud adalah pemberian bantuan produktif kepada masyarakat, termasuk pengembangan usaha ternak ayam, kerajinan tangan dan produksi makanan.
Menurut Zainal, bantuan itu diharapkan dapat memperkuat perekonomian masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Dia juga membuka peluang pemberian bantuan hibah produktif lanjutan bagi kelompok masyarakat yang masih membutuhkan dukungan untuk mengembangkan usahanya.
M4CR dorong usaha produktif masyarakat
Sementara itu, PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara, Akhmad Ashar Sarif, mengatakan pemerintah terus mempercepat pemulihan ekosistem mangrove melalui pelibatan kelompok masyarakat.
Selain rehabilitasi mangrove, program M4CR juga mendorong pengembangan usaha produktif yang disesuaikan dengan potensi lokal. Menurut Akhmad, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari luas kawasan mangrove yang berhasil direhabilitasi, tetapi juga dari keterlibatan masyarakat dan manfaat ekonomi yang mereka rasakan.
"Bagi kami, penting memastikan masyarakat menjadi bagian dari proses pemulihan mangrove sekaligus merasakan manfaat dari program ini. Karena itu, M4CR tidak hanya mendukung kegiatan rehabilitasi, tetapi juga memperkuat kapasitas kelompok dan mengembangkan potensi usaha masyarakat di sekitar kawasan pesisir," ujar Akhmad.

Salah satu implementasi program tersebut dilakukan di Desa Tanah Merah, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung.
Di wilayah itu, kelompok masyarakat Mekar Abadi dan Tunas Abadi Jaya mengembangkan budidaya udang dan ikan bandeng melalui sistem silvofishery. Dalam sistem tersebut, kegiatan budidaya perikanan dilakukan dengan tetap memperhatikan keberadaan mangrove sebagai bagian penting dari ekosistem tambak.
Dengan demikian, masyarakat tetap dapat menjalankan kegiatan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan pesisir.
UMKM kerajinan kipas bambu raup omzet jutaan
Manfaat program M4CR juga dirasakan kelompok usaha kerajinan tangan di Kalimantan Utara. Ketua Kelompok Inggilad Taka Desa Tengku Dacing, Mita, mengaku terbantu dengan adanya program tersebut.
Kelompok yang didirikannya sejak 2017 itu memproduksi kipas bambu batik khas Kalimantan Utara. Usaha tersebut kini mampu melibatkan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja sekaligus memberikan penghasilan bagi mereka.
Mita mengatakan, kelompoknya mampu menghasilkan omzet paling kecil sekitar Rp5 juta setiap bulan.
"Setiap bulan alhamdulillah Rp5 juta ada," ucapnya.
Dia mengungkapkan, produk kerajinan yang dihasilkan kelompoknya kini telah dipasarkan ke sejumlah daerah di Kaltara hingga ke luar provinsi.
"Pemasarannya sudah banyak, Alhamdulillah ke beberapa daerah yang ada di Kaltara dan bahkan luar provinsi. Ini berkat M4CR," ujar perempuan keturunan suku Bugis tersebut.

