Search

IHSG Anjlok Hampir 2 Persen Imbas Sejumlah Saham RI Terdepak dari Indeks MSCI

JAKARTA, (ERAKINI) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah tajam pada perdagangan Rabu (13/5/2026) sore. IHSG terseret sentimen negatif dari keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). IHSG ditutup turun 135,57 poin atau 1,98 persen ke level 6.723,32.

Kepala Analis Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pelemahan IHSG dipicu pengumuman hasil review kuartalan MSCI Mei 2026 yang dirilis Selasa (13/5) waktu setempat. Dalam evaluasi tersebut, sejumlah saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index.

“Dikeluarkannya beberapa saham dari daftar indeks MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index pada pengumuman review kuartalan Mei 2026 telah menjadi faktor negatif yang mendorong pelemahan indeks,” ujar Ratna dalam kajiannya.

Meski demikian, Ratna menilai tekanan pasar masih relatif terbatas karena proyeksi arus keluar dana asing (foreign outflow) tidak sebesar perkiraan awal. Investor juga dinilai tetap optimistis terhadap posisi Indonesia sebagai bagian dari pasar negara berkembang (emerging market).

Selain itu, sebagian pelaku pasar disebut telah lebih dulu mengantisipasi keputusan MSCI sehingga dampaknya tidak terlalu mengejutkan.

Dari sisi perdagangan, kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.841 triliun. Volume perdagangan saham mencapai 24,74 miliar lembar dengan frekuensi 1,46 juta kali transaksi dan nilai transaksi sebesar Rp10,26 triliun. Sebanyak 280 saham menguat, 411 saham melemah, dan 268 saham stagnan.

Secara sektoral, hampir seluruh sektor berada di zona merah. Hanya sektor transportasi yang menguat 4,89 persen dan sektor industri naik 1,26 persen.

Sementara itu, sektor bahan baku mencatat pelemahan terdalam sebesar 4,43 persen, diikuti sektor infrastruktur 2,72 persen, energi 1,61 persen, barang konsumsi siklikal 1,40 persen, kesehatan 1,22 persen, teknologi 0,71 persen, properti 0,70 persen, keuangan 0,58 persen, serta barang konsumsi nonsiklikal 0,44 persen.

Dialami Sejumlah Negara Asia
Di sisi lain, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menegaskan perubahan komposisi indeks MSCI tidak hanya terjadi pada saham Indonesia, tetapi juga dialami sejumlah negara Asia lainnya.

Menurut Friderica, Jepang mencatat 14 emiten keluar dari MSCI Global Standard Index, Taiwan tujuh emiten, Malaysia enam emiten, dan Korea Selatan tiga emiten. Sementara China menambah 22 emiten baru, tetapi juga mengalami keluarnya 24 emiten dari indeks.

“Jadi ini mencerminkan adanya penyesuaian global portofolio allocation dan dinamika pasar yang cukup luas di kawasan, bukan semata isu spesifik Indonesia,” kata Friderica, yang akrab disapa Kiki.

Ia menjelaskan, perubahan komposisi indeks MSCI merupakan bagian dari peninjauan berkala berdasarkan parameter objektif, seperti kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, dan dinamika harga saham.

Meski demikian, OJK memandang kondisi tersebut sebagai momentum untuk terus memperkuat kualitas dan kedalaman pasar modal Indonesia.

“OJK bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus mendorong penguatan market integrity, peningkatan free float dan likuiditas, perluasan basis investor, serta penguatan governance emiten agar daya saing pasar modal Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan,” tuturnya.

Kiki juga memastikan fundamental sektor jasa keuangan Indonesia tetap resilien dan stabil. Menurut dia, volatilitas jangka pendek maupun perubahan indeks global tidak mengubah komitmen OJK dalam membangun pasar yang sehat, transparan, dan kredibel bagi investor domestik maupun global.

“Ke depan, kami juga terus memperkuat koordinasi dengan BEI, SRO, dan seluruh pelaku pasar guna memastikan pasar modal Indonesia semakin attractive, liquid, dan investable dalam jangka panjang,” tambahnya.

Dalam hasil MSCI May 2026 Index Review, enam saham Indonesia resmi dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Sementara itu, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) justru masuk ke dalam MSCI Global Small Cap Index.

MSCI juga menghapus sejumlah saham dari MSCI Global Small Cap Index, di antaranya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).