JAKARTA, (ERAKINI) — Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 meleset dari target. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tahun 2025 hanya tumbuh sebesar 5,1 persen.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2024 yang tumbuh 5,03 persen (c-to-c). Namun, capaian di 2025 masih lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,2 persen.
"Perekonomian Indonesia tahun 2025 berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp23.821,1 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp83,7 juta atau USD5.083," ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Amalia melaporkan, ekonomi Indonesia pada triwulan IV-2025 terhadap triwulan IV-2024, mengalami pertumbuhan sebesar 5,39 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, lapangan usaha transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 8,98 persen.
"Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 6,12 persen," jelasnya.
Ekonomi Indonesia triwulan IV-2025 terhadap triwulan III-2025 juga mengalami pertumbuhan sebesar 0,86 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 13,59 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 37,68 persen.
Menurut Amalia, pada tahun 2025 pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali pertambangan dan penggalian yang terkontraksi sebesar 0,66 persen. Lapangan usaha yang tumbuh signifikan adalah jasa lainnya sebesar 9,93 persen. Diikuti oleh jasa perusahaan sebesar 9,10 persen; serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,78 persen.
Sementara itu, industri pengolahan; serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, dan sepeda motor yang memiliki peran dominan terhadap perekonomian Indonesia masing-masing tumbuh sebesar 5,30 persen dan 5,49 persen.
Struktur PDB Indonesia menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2025 tidak menunjukkan perubahan berarti. Perekonomian Indonesia masih didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan sebesar 19,07 persen; diikuti oleh perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 13,17 persen; pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 13,10 persen; konstruksi sebesar 9,83 persen; serta pertambangan dan penggalian sebesar 8,75 persen.
"Peranan kelima lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Indonesia mencapai 63,92 persen," bebernya.
Pada tahun 2025, Pulau Jawa masih menunjukkan peranan yang kuat dalam perekonomian Indonesia, dengan kontribusi sebesar 56,93 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Pulau Sumatera (22,22 persen), Kalimantan (8,12 persen), Sulawesi (7,22 persen), Bali dan Nusa Tenggara (2,82 persen), serta Maluku dan Papua (2,69 persen).
Ekonomi Indonesia secara spasial selama tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan di seluruh kelompok provinsi. Kelompok provinsi di Pulau Sulawesi mencatat pertumbuhan (c-to-c) tertinggi sebesar 6,23 persen, diikuti oleh Pulau Jawa (5,30 persen), Pulau Bali dan Nusa Tenggara (4,87 persen), Pulau Sumatera (4,81 persen), dan Pulau Kalimantan (4,79 persen). Adapun kelompok provinsi di Pulau Maluku dan Papua mencatat pertumbuhan terendah, yakni sebesar 1,44 persen.