Di Balik Kokohnya Mata Uang Asia hingga Menguat 0,69%
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) – Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang semakin melunak terkait tarif impor dan suku bunga memberikan dampak positif terhadap perdagangan dan mata uang Asia. Dalam laporan Bloomberg pada Selasa (28/1/2025), mata uang Asia tercatat masih kokoh, bahkan menguat sebesar 0,69%, dengan rupiah kini mencapai level Rp 16.172 per dolar AS.
Secara keseluruhan, ringgit Malaysia tercatat mengalami penguatan terbesar di Asia dengan kenaikan 1,15%. Sementara itu, baht Thailand juga menguat 0,79%, dan peso Filipina naik 0,62%. Yuan China dan dolar Singapura tercatat menguat 0,49%, diikuti yen Jepang yang naik 0,41%, won Korea Selatan yang terapresiasi 0,38%, serta dolar Taiwan yang menguat tipis sebesar 0,29%. Selain itu, rupee India dan dolar Hong Kong masing-masing mengalami kenaikan 0,23% dan 0,03% terhadap dolar AS.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan mata uang Asia ini sangat dipengaruhi oleh sikap lebih lunak yang ditunjukkan Trump terhadap China. Dalam pidato pelantikannya pada 20 Januari, Trump mengungkapkan bahwa ia tidak akan memberlakukan tarif impor pada hari pertama menjabat, bertentangan dengan kebijakan sebelumnya. Tarif impor yang dikenakan pada China juga lebih rendah dari yang diperkirakan, yaitu hanya 10%, jauh lebih rendah dibandingkan ancaman tarif sebesar 60% yang sempat disuarakan sebelumnya.















