Punjulharjo 'Masa Depan Ekowisata Pesisir': Sinergi Energi Bersih, Budaya dan Ekonomi Desa
Fuad Muhammad
Pariwisata desa sering kali bertumpu pada keindahan alam, peninggalan sejarah, tradisi, dan produk khas masyarakat. Namun, ada pertanyaan penting yang perlu dijawab: apakah meningkatnya jumlah wisatawan otomatis membuat masyarakat semakin sejahtera dan lingkungan tetap terjaga?
Tanpa pengelolaan yang baik, pariwisata justru dapat meningkatkan timbulan sampah, konsumsi energi, dan tekanan terhadap ekosistem. Kebudayaan lokal pun berisiko sekadar menjadi tontonan komersial. Karena itu, desa wisata tidak cukup hanya menarik untuk dikunjungi. Desa juga perlu mengelola sumber daya secara mandiri, memperkuat ekonomi warga, menjaga lingkungan, dan mempertahankan identitas budayanya.
Desa Punjulharjo, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, memberikan gambaran tentang upaya menjawab tantangan tersebut. Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang memasuki tahun ketiga pada 2026, Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Ivet (Unisvet) mengembangkan pendekatan yang menghubungkan teknologi, ekonomi lokal, pelestarian lingkungan, dan kebudayaan.
Program ini didanai oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, melalui skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah, Ruang Lingkup Pemberdayaan Desa Binaan Tahun Anggaran 2026. Dalam pelaksanaannya, tim mengusung model SAT, singkatan dari Strategi, Aksi, dan Teknologi. Pendekatan ini menempatkan teknologi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan alat untuk menyelesaikan persoalan dan mengembangkan potensi desa secara berkelanjutan.
Punjulharjo memiliki dua daya tarik utama, yakni Situs Perahu Kuno sebagai warisan sejarah dan Pantai Karang Jahe sebagai destinasi wisata pesisir. Keduanya berpotensi menjadi sumber penghidupan masyarakat jika dikelola secara tepat. Namun, pengembangan wisata juga membutuhkan biaya listrik, pengelolaan sampah, fasilitas pertunjukan seni, serta produk UMKM yang memenuhi standar mutu. Jika biaya operasional terlalu tinggi dan usaha lokal tidak berkembang, peningkatan kunjungan belum tentu memberikan manfaat ekonomi yang merata.
Karena itu, keberhasilan desa wisata perlu diukur lebih luas daripada jumlah pengunjung. Penghematan biaya, pengurangan limbah, peningkatan pendapatan UMKM, keberlangsungan kesenian, dan keterlibatan warga juga harus menjadi indikator. Ekowisata yang berkelanjutan bukan berarti menolak kegiatan ekonomi, melainkan memastikan bahwa kegiatan tersebut tidak merusak sumber daya alam dan budaya yang menjadi daya tarik desa.
Strategi, Aksi dan Teknologi (SAT)
Program pemberdayaan kerap menghadapi persoalan ketika bantuan peralatan tidak disertai rencana pengelolaan, pembiayaan, dan pemeliharaan. Akibatnya, fasilitas yang tersedia berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal setelah pendampingan berakhir. Model SAT berusaha menghindari persoalan tersebut. Strategi menentukan tujuan dan prioritas, aksi menerjemahkan rencana menjadi kegiatan nyata, sedangkan teknologi membantu pekerjaan menjadi lebih efisien dan terukur.
Pendekatan ini diperkuat melalui Participatory Action Research (PAR) dan Participatory Rural Appraisal (PRA), yang melibatkan masyarakat dalam mengenali persoalan, merancang solusi, menjalankan kegiatan, dan mengevaluasi hasilnya.
Masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama perubahan karena warga memahami kondisi lingkungan, kebutuhan usaha, dan karakter wisatawan. Perguruan tinggi melengkapi pengetahuan tersebut melalui dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendampingan.
Salah satu tantangan pengelolaan wisata di Punjulharjo adalah biaya listrik. BUMDesa Abimantrana, mitra pengembangan fasilitas Edupark Situs Perahu Kuno, membutuhkan pengelolaan energi yang lebih efisien agar biaya operasional tidak menghambat pengembangan layanan.
Melalui program tahun ketiga, diterapkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid berkapasitas 300 watt-peak (Wp), dilengkapi solar charge controller atau pengendali pengisian daya. Sistem tersebut dilaporkan mampu mengurangi beban biaya listrik bulanan hingga 50–60 persen pada fasilitas yang menjadi sasaran program.
Penggunaan energi surya memberikan peluang penghematan sekaligus mendorong pengelola memperhitungkan efisiensi energi dalam perencanaan bisnis. Meski demikian, kapasitas 300 Wp tidak otomatis memenuhi seluruh kebutuhan listrik kawasan wisata. Hasilnya bergantung pada beban peralatan, lama penggunaan, kapasitas penyimpanan, dan kondisi cuaca.
Karena itu, penghematan perlu dicatat secara rutin, sedangkan pemeliharaan sistem harus masuk dalam anggaran operasional. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan kemungkinan pengembangan PLTS pada masa mendatang.
Tantangan lain adalah pengelolaan limbah sabut kelapa di kawasan Pantai Karang Jahe. Melalui program ini, sabut kelapa diolah menggunakan mesin pencacah atau hammer mill menjadi cocopeat, bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai media tanam. Cocopeat digunakan untuk mendukung pembibitan dan budi daya tanaman, termasuk pada fasilitas greenhouse yang dilengkapi panel surya dan lampu pertumbuhan tanaman atau grow light. Pengolahan ini membuka peluang penerapan ekonomi sirkular: limbah dikumpulkan, diolah, lalu dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan nilai ekonomi dan manfaat lingkungan.
Cocopeat juga diarahkan untuk mendukung pembibitan vegetasi pesisir, termasuk cemara laut. Namun, keberhasilan rehabilitasi tetap bergantung pada kesesuaian tanaman, kondisi tanah, ketersediaan air, dan pengelolaan kawasan. Agar pengolahan limbah berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan, pengelola perlu menghitung biaya bahan baku, energi, tenaga kerja, kapasitas produksi, mutu produk, dan potensi pasar. Mesin saja tidak cukup; keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan mengelola usaha dan menemukan pembeli.
Kebudayaan Tak Sekadar Tontonan
Selain lingkungan dan energi, kebudayaan menjadi unsur penting dalam pengembangan ekowisata. Di Punjulharjo, Sanggar Seni Kusuma Wicitra menjadi mitra dalam penguatan kesenian lokal. Melalui program ini, sanggar memperoleh panggung modular berukuran 6 x 8 meter dan satu set instrumen gamelan lengkap dengan pelindung antikorosi yang dirancang untuk lingkungan pesisir. Fasilitas tersebut diharapkan memudahkan penyelenggaraan pertunjukan dan mengurangi ketergantungan pada peralatan dari luar. Program ini juga mendukung penciptaan Tari Selaras Senja dan Tari Prajurit Satrio Punjulharjo, lengkap dengan kostum pentas.
Karya-karya tersebut dapat memperkuat identitas budaya desa sekaligus menambah pilihan atraksi wisata. Namun, kesenian tidak boleh dikembangkan semata-mata demi kebutuhan komersial. Nilai sosial, sejarah, dan pendidikan tetap harus dijaga. Karena itu, penguatan sanggar perlu mencakup regenerasi seniman, pembelajaran bagi anak-anak, dokumentasi karya, serta keterlibatan warga. Pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas karya tari melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual juga menjadi langkah penting untuk memberikan pengakuan formal dan memperjelas perlindungan karya. Dengan pengelolaan yang tepat, kesenian dapat menjadi sumber kebanggaan, ruang belajar, sekaligus peluang penghidupan masyarakat.
Kunjungan wisatawan seharusnya membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, mulai dari makanan hingga produk oleh-oleh. Di Punjulharjo, dukungan kepada UMKM dilakukan melalui standardisasi fortifikasi garam krosok beriodium dan modernisasi pengemasan terasi menggunakan alat impulse sealer. Perbaikan mutu dan kemasan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen serta membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Namun, upaya tersebut harus disertai kebersihan proses produksi, pengendalian mutu, pelabelan yang sesuai, dan pemenuhan standar keamanan pangan.
Produk UMKM juga perlu dihubungkan langsung dengan kegiatan wisata melalui pusat informasi, pameran, paket wisata, dan promosi digital. Dengan begitu, manfaat pariwisata dapat menjangkau lebih banyak rumah tangga, bukan hanya pengelola destinasi.
Agar kerja sama berjalan baik, diperlukan mekanisme pemasokan, penetapan harga, pengendalian kualitas, dan pembayaran yang transparan. Tujuannya bukan sekadar membuat produk terlihat menarik, melainkan membangun usaha yang mampu bertahan.
Digitalisasi Kearifan Lokal
Program di Punjulharjo turut mengembangkan promosi digital melalui situs desawisatapunjulharjo.com, pemetaan usaha lokal menggunakan Google Business Profile dan strategi Local SEO, serta brosur digital berbasis QR Code. Langkah ini membantu calon wisatawan memperoleh informasi mengenai lokasi, daya tarik, akses perjalanan, kegiatan, dan produk lokal sebelum berkunjung.
Agar efektif, platform digital perlu diperbarui secara berkala. Konten juga sebaiknya tidak hanya menampilkan pantai, tetapi turut menceritakan Situs Perahu Kuno, kehidupan masyarakat pesisir, pengolahan sabut kelapa, kesenian, dan produk UMKM. Dengan demikian, promosi dapat memperkenalkan identitas desa secara lebih utuh. Namun, peningkatan kunjungan harus diimbangi kesiapan pelayanan, kebersihan, keselamatan, dan pengelolaan sampah agar tidak menambah tekanan terhadap lingkungan.
Berbagai fasilitas dan kegiatan yang dikembangkan di Punjulharjo memberikan dasar bagi perubahan. Namun, keberhasilan program tidak cukup dinilai dari jumlah peralatan yang tersedia, karya seni yang dihasilkan, atau platform digital yang diluncurkan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah PLTS tetap berfungsi, mesin pencacah digunakan secara rutin, cocopeat memiliki pasar, fasilitas seni dimanfaatkan, pendapatan UMKM meningkat, dan masyarakat semakin terlibat dalam pengambilan keputusan.
Untuk menjawabnya, BUMDesa Abimantrana dan Sanggar Seni Kusuma Wicitra perlu memiliki pembagian tanggung jawab, pencatatan keuangan, rencana usaha, dan anggaran pemeliharaan. Evaluasi berkala juga perlu mengukur perubahan biaya listrik, volume limbah yang diolah, produksi cocopeat, pendapatan kegiatan seni, jumlah UMKM yang terlibat, serta kondisi kebersihan pantai dan keberhasilan penanaman vegetasi pesisir. Data tersebut penting untuk membedakan kegiatan yang sekadar terlaksana dari program yang benar-benar memberikan perubahan.
Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media melalui pendekatan pentahelix dapat memperkuat keberlanjutan. Perguruan tinggi mendukung evaluasi dan inovasi, pemerintah memfasilitasi kebijakan, dunia usaha membuka akses pasar, komunitas menggerakkan kegiatan, dan media memperluas informasi. Namun, masyarakat desa harus tetap menjadi pusat pengambilan keputusan agar pengembangan tidak bergantung selamanya pada bantuan dari luar.
Pengalaman Punjulharjo menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan destinasi. Energi bersih, pengolahan limbah, penguatan UMKM, pelestarian kesenian, dan pemasaran digital perlu dikelola sebagai satu ekosistem yang saling mendukung.
Model SAT menawarkan kerangka untuk menghubungkan seluruh unsur tersebut. Strategi memberi arah, aksi mewujudkan rencana, dan teknologi membantu meningkatkan efisiensi. Meski demikian, model ini bukan resep instan yang dapat diterapkan secara seragam di semua desa. Penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi alam, potensi ekonomi, tradisi, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Pada akhirnya, masa depan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh jumlah pengunjung. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang adil, lingkungan tetap terjaga, budaya terus berkembang, dan pengelola mampu menjalankan usahanya secara mandiri.
Punjulharjo memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa pariwisata dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Kuncinya terletak pada pengetahuan, partisipasi masyarakat, dan tanggung jawab jangka panjang. Sebab, desa wisata yang benar-benar berkelanjutan bukan sekadar desa yang ramai dikunjungi, melainkan desa yang tetap memiliki lingkungan sehat, budaya yang hidup, dan masyarakat yang sejahtera setelah wisatawan pulang.


















