Menggali Kesejatian (21): Fir'aun dan Sains Islam
Hamdan Juhannis
Saya tertarik pada ceramah salah seorang kawan yang juga seorang kiai, namanya Andi Aderus. Ceramah itu disampaikan di masjid komplek tempat saya tinggal. Dalam ceramahnya, beliau mengulas sebuah topik yang sebenarnya sudah sering dibahas oleh akademisi dan penceramah lain. Tema tersebut yaitu Relasi Qur'an dan ilmu Pengetahuan.
Tema itu memang selalu menarik untuk disimak oleh pendengar seperti saya. Daya tariknya dari tema itu yakni kajian yang ditampilkan tetap mengandung kebaruan, relevan dengan tanda-tanda yang sudah diindikasikan oleh Qur'an sebagai kitab suci yang diturunkan hampir 1500 tahun yang lalu.
Kiai Andi Aderus mengulas bagaimana fenomena Fir'aun yang sudah diindikasikan dalam kitab suci bahwa Tuhan akan menyelamatkan jasadnya supaya bisa menjadi pelajaran bagi umat yang datang sesudahnya.
Dijelaskan pula bahwa Fir'aun sebelum tenggelam di laut merah sempat memperhadapkan pengakuan penghambaannya kepada Tuhan tapi pengakuan itu sudah terlambat, kesejatian yang tertimbun dan dihancurkan oleh keangkuhan.
Lalu Kiai Andi Aderus mengulas bahwa bagaimana seorang peneliti asal Prancis, Maurice Bucaille, yang juga dokter ahli bedah, saat membedah Jasad Fir'aun yang ditemukan, secara meyakinkan menemukan bahwa sains mengkonfirmasi kebenaran ayat suci.


















