Kompetisi
Ahmad Zainul Hamdi
(ERAKINI) - Membuktikan diri sebagai juara dan mengalahkan orang lain itu animal instinct yang tertanam dalam diri manusia. Tidak ada yang bisa mengelak dari "kutukan" ini. Dalam berbagai bentuknya, setiap orang punya kecenderungan untuk menunjukkan dirinya sebagai yang terhebat. Bahkan manusia terlemah pun tidak bisa lolos dari imajinasi untuk menjadi pemenang. Nietszche menggambarkan "kodrat" manusia ini dengan istilah "will to power".
Peradaban manusia memiliki caranya untuk mengkanalisasi animal instinct ini. Era Romawi Kuno, terutama di era Julius Caesar, mencatat pertarungan berdarah yang disebut gladiator. Sekalipun pada awalnya ini menjadi ritual pemakaman kelas bangsawan, pada akhirnya dia berubah menjadi pertandingan hidup mati untuk menentukan "the last man standing" yang layak dipuja-puja oleh para penonton seisi colosseum.
Olimpiade juga adalah salah satu cara manusia untuk mengatur hasrat untuk menjadi sang juara. Event olimpiade punya sejarah yang sangat panjang sejak ribuan tahun lalu, tepatnya pada 776 SM. Ia berasal dari pedesaan Olympia Yunani Kuno. Event ini didekasikan untuk menghormati Dewa Zeus. Olimpiade diselenggarakan untuk mencari apa yang disebut "manusia unggul" melalui sebuah kejuaraan. Coroebus, seorang pembuat roti, tercatat sebagai manusia pertama yang memenangkan Olimpiade 776 SM itu.
Sekalipun pada 391 M penyelenggaraan olimpiade pernah dilarang oleh Kisar Romawi Kristen, Theodosius, karena dianggap sebagai sisa-sisa ritual pagan, namun tunas olimpiade terus tumbuh. Hasrat manusia untuk menjadi juara terus mencari cara untuk bisa diwujudkan. Akhirnya, pada 1896, Kota Athena, Yunani, menjadi saksi penyelenggaraan modern pertama yang terus berlanjut hingga kini.



















