Kelangkaan Plastik dan Respons Ecoteologi
Prof Dr KH Muhammad Ishom, M.A.,
Prof Dr H Muhammad Ishom, M.A.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Plastik mulai langka. Gangguan pasokan, kenaikan harga bahan baku, dan tekanan industri membuat benda yang dulu mudah didapat ini kini menjadi barang berharga. Tidak lagi tersedia dalam jumlah yang melimpah, plastik kini menjadi simbol keterbatasan sumber daya yang tak terlihat oleh mata sehari-hari.
Respons masyarakat terhadap kelangkaan ini beragam. Ada yang menanggapi dengan panik karena terbiasa mengandalkan kemudahan plastik, dan ada pula yang melihat sisi positifnya. Tanggapan positif muncul karena limbah plastik tetap menumpuk dan menjadi ancaman serius bagi daratan maupun lautan.
Menurut United Nations Environment Programme, produksi plastik global tetap mencapai ratusan juta ton per tahun. Namun distribusinya timpang: sebagian wilayah melimpah, sementara ekosistem alami menanggung beban limbah yang tidak terurai. Ketimpangan ini mencerminkan paradoks modern: kelangkaan fisik berbanding terbalik dengan kelimpahan kerusakan lingkungan.



















