Dari Lirboyo untuk Nahdlatul Ulama: Menyempurnakan Islah, Menjaga Wibawa Jam’iyah
Adhe HM Musa Said








Adhe HM Musa Said
Pengurus LPP PBNU, Koornas JAM PMII,
Ketua Senat STAI Al Badar Pesantren Cipulus Purwakarta,
Santri 'Ndableg' Pesantren Lirboyo
SETIAP kali Nahdlatul Ulama menghadapi persimpangan, yang kembali dicari hampir selalu sama: pesantren. Bukan karena pesantren memiliki gedung yang lebih megah atau fasilitas yang lebih lengkap, melainkan karena di sanalah NU pertama kali belajar menyelesaikan perbedaan.
Sebelum menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU tumbuh sebagai tradisi yang hidup di serambi-serambi pesantren. Di tempat itulah musyawarah menjadi kebiasaan, adab menjadi pagar, dan perbedaan tidak pernah dibiarkan memutus persaudaraan.
Karena itu, ketika Pesantren Lirboyo menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 sekaligus membuka ruang islah di tengah dinamika yang berkembang, langkah tersebut layak dibaca lebih dari sekadar kesiapan menyelenggarakan forum organisasi.
Di baliknya tersimpan ikhtiar untuk mengembalikan satu hal yang menjadi kekuatan utama NU sejak awal berdiri, yakni kewibawaan moral sebuah jam’iyah yang dibangun di atas musyawarah, ketawaduan, dan penghormatan kepada para ulama.
Islah dalam tradisi NU bukanlah jalan pintas untuk mengakhiri perbedaan. Islah adalah kesediaan menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan kelompok maupun perseorangan.
Sebab, organisasi sebesar Nahdlatul Ulama tidak mungkin tumbuh selama satu abad lebih apabila setiap perbedaan selalu berakhir dengan pertentangan. Para muassis telah mewariskan teladan bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari dinamika keilmuan, sedangkan persaudaraan adalah fondasi yang tidak boleh retak.
Sikap yang ditunjukkan Lirboyo tidak lahir secara tiba-tiba. Sejak didirikan oleh KH Abdul Karim atau Mbah Manab pada 1910, pesantren ini membangun tradisi keilmuan yang melahirkan ribuan santri, ulama, dan kader Nahdlatul Ulama yang berkhidmat di berbagai daerah.
Namun, warisan terbesar Lirboyo sesungguhnya bukan terletak pada besarnya jumlah santri atau luasnya jaringan alumni, melainkan pada watak yang dibentuk selama lebih dari satu abad: memuliakan ilmu, menjaga adab, dan menempatkan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi.
Watak itulah yang tercermin pada sosok KH Mahrus Ali. Seusai wafatnya KH Bisri Sansuri, beliau pernah didorong menjadi Rais Aam PBNU. Kesempatan itu terbuka, tetapi beliau memilih tidak menerimanya karena merasa masih ada ulama lain yang lebih layak.
Sikap tersebut bukan menunjukkan keraguan, melainkan ketawaduan yang menjadi ruh pendidikan pesantren. Di lingkungan pesantren, jabatan tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus dikejar, melainkan amanah yang diterima ketika benar-benar menjadi kebutuhan umat.
Dalam konteks itulah Muktamar NU seharusnya dipahami. Muktamar bukan sekadar forum memilih ketua umum atau menyusun kepengurusan lima tahunan.
Lebih dari itu, muktamar adalah kesempatan memperbarui kepercayaan di antara sesama warga nahdliyin dan meneguhkan kembali tujuan besar organisasi. Sebab, wibawa sebuah jam’iyah tidak pernah lahir dari kemenangan satu kelompok atas kelompok lain.
Wibawa tumbuh ketika seluruh warga percaya bahwa setiap keputusan diambil melalui musyawarah yang jujur, adil, dan dilandasi niat mengabdi kepada umat.
Apabila Muktamar ke-35 benar-benar diselenggarakan di Lirboyo, maknanya tidak berhenti pada penentuan lokasi. Yang sesungguhnya dihadirkan adalah suasana pesantren yang selama ini menjadi ruang lahirnya tradisi NU sendiri.
Di lingkungan seperti itulah setiap perbedaan diharapkan kembali menemukan adabnya, setiap perdebatan menemukan batasnya, dan setiap keputusan memperoleh legitimasi moral yang lahir dari kejernihan hati, bukan semata-mata dari perimbangan kekuatan.
Mungkin itulah sebabnya, ketika Nahdlatul Ulama menghadapi persimpangan, banyak mata kembali memandang pesantren. Bukan karena pesantren selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan, melainkan karena pesantren selalu mengingatkan dari mana organisasi ini berasal.
Di tengah perubahan zaman, ingatan semacam itu sering kali lebih berharga daripada kemenangan sesaat. Sebab, Nahdlatul Ulama tidak hanya membutuhkan pemimpin yang dipilih melalui muktamar, tetapi juga kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dan kebijaksanaan itu, hingga hari ini, tetap menyala di pesantren.
Dari Lirboyo, pesan tersebut kembali disampaikan kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama: menyempurnakan islah bukan sekadar menyelesaikan perbedaan, melainkan menjaga wibawa jam’iyah agar tetap menjadi penuntun bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

