Obesitas Menghantui Anak-anak! Ketahui Penyebab, Gejala, dan Cara Pencegahannya
Thomas Pulungan






"Penelitian dari RSCM untuk anak-anak sekolah juga sudah mulai mengalami peningkatan obesitas. Anak-anak DKI Jakarta yang mengalami obesitas itu sekitar 34 persen," ujar Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, Minggu (3/2/2024).
Obesitas telah lama menjadi wabah global dan meresahkan banyak negara, termasuk Indonesia. Dari sebelumnya dianggap sebagai masalah orang dewasa, obesitas kini menyerang populasi remaja dan anak-anak dengan laju yang mengkhawatirkan.
Obesitas adalah kondisi medis di mana kelebihan lemak tubuh terakumulasi hingga mengganggu kesehatan. Seseorang dikategorikan menderita obesitas jika indeks massa tubuh (BMI) sudah melebihi 30 kg/m2.
Obesitas tidak bisa dianggap sepele. Sebab, obesitas dapat menyebabkan komplikasi penyakit jantung dan hipertensi. Risiko penyakit kardiovaskular dapat meningkat dengan obesitas.
Kemudian diabetes tipe 2. Obesitas dapat meningkatkan risiko resistensi insulin. Lalu masalah Pencernaan, seperti GERD atau batu empedu. Gangguan Pernapasan, seperti apnea tidur atau masalah pernapasan lainnya. Serta masalah tulang dan sendi, seperti osteoartritis.
Pemicu obesitas umumnya tak lepas dari perubahan pola hidup atau sedentary lifestyle, seperti minim aktivitas gerak dan olahraga dan pola makan tidak sehat.
Mengutip laman resmi Kemkes, berikut beberapa penyebab utama obesitas:
1. Asupan Kalori Berlebihan
Konsumsi makanan dengan kalori tinggi lebih dari yang dibakar oleh tubuh.
2. Kurang Aktivitas Fisik
Gaya hidup sedenter atau kurang bergerak.
3. Faktor Genetika
Sejarah keluarga dengan obesitas.
4. Faktor Lingkungan
Ketersediaan makanan tidak sehat, kurangnya ruang bermain atau olahraga.
5. Gangguan Hormonal
Sindrom ovarium polikistik.
6. Faktor Psikologis
Stres, depresi, atau trauma tertentu.
Gejala
1. Berat badan yang jauh di atas rata-rata untuk tinggi badan.
2. Penumpukan lemak di area tertentu tubuh.
3. Sesak nafas dengan aktivitas minimal.
4. Mudah lelah.
5. Nyeri pada sendi dan tulang.
Diagnosis
1. Pengukuran BMI
Dengan membagi berat badan (dalam kg) dengan tinggi badan (dalam m) kuadrat.
2. Pemeriksaan Fisik
Termasuk pemeriksaan tekanan darah, dan lainnya.
3. Tes Laboratorium
Tes darah untuk mengecek kadar gula, kolesterol, dan fungsi hati.
4. Pemeriksaan Pencitraan
Seperti ultrasound atau MRI untuk melihat akumulasi lemak.
Pengobatan
1. Perubahan Pola Makan
Menerapkan diet seimbang dengan kalori yang disesuaikan.
2.Olahraga
Aktivitas fisik rutin.
3. Konseling atau Terapi
Untuk membantu mengatasi masalah emosional atau gangguan makan.
4. Medikasi
Beberapa obat dapat membantu menurunkan nafsu makan atau meningkatkan pembakaran lemak.
5. Operasi
Seperti operasi bypass lambung, bagi kasus obesitas ekstrim.
Pencegahan
1. Edukasi Gizi
Mengajarkan pentingnya asupan makanan yang seimbang.
2.Pengenalan Olahraga
Mendorong remaja untuk lebih aktif bergerak.
3. Pengurangan Waktu Layar
Mengurangi waktu duduk di depan TV atau gadget.
4. Pendidikan Kesehatan di Sekolah
Program edukasi di sekolah mengenai bahaya obesitas.



