Pneumonia atau penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) setiap tahunnya menjadi penyebab utama kematian pada bayi dan balita. Foto: Ilustrasi/Freepik
JAKARTA, (ERAKINI) - Kabar meninggalnya Sekjen PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Muhammad Rafsanjani pada Senin (11/3/2024) membuat penyakit pneumonia kembali jadi sorotan. Rafsan dikabarkan sakit pneumonia dan virus influenza yang menyerang paru-paru dan jantung.
Penyakit ternyata tidak hanya menyerang orang dewasa. Bahkan merupakan pembunuh utama balita di dunia dan Indonesia. Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ini setiap tahunnya menjadi penyebab utama kematian pada bayi dan balita.
Direktur Pencegahan dan Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan, pneumonia menyebabkan kematian pada balita lebih banyak di dunia dibandingkan gabungan penyakit AIDS, Malaria, dan Campak.
Setiap tahun diperkirakan lebih dari 2 juta balita meninggal karena pneumonia. Pneumonia adalah infeksi saluran pernapasan akut yang bisa menjangkiti salah satu atau kedua paru-paru.
Tidak ada penyebab tunggal pneumonia. Pneumonia bisa disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur yang ada di udara. Di negara-negara berkembang 60 persen kasus pneumonia disebabkan oleh bakteri sementara di negara maju penyebab penyakit ini adalah virus.
Pemerintah Indonesia menaruh perhatian terhadap kasus pneumonia ini dengan berkomitmen untuk menghentikan kematian bayi baru lahir dan anak balita akibat penyakit yang dapat dicegah hingga kurang dari 12 per 1,000 kelahiran hidup bayi baru lahir, dan mengurangi kematian hingga kurang dari 25 per 1,000 kelahiran hidup balita.
Sebagai tindaklanjut dari komitmen tersebut, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Madah, telah menyusun Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Pneumonia dan Diare (RAN PPD) 2023-2030.
Menurut Kemenkes, pneumonia adalah peradangan akut jaringan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, jamur, dan virus). Pneumonia bisa menimbulkan gejala yang ringan hingga berat.
Pada kondisi ini, infeksi menyebabkan peradangan pada kantong-kantong udara (alveoli) di salah satu atau kedua paru. Akibatnya, alveoli dipenuhi cairan atau nanah sehingga membuat penderitanya sulit bernapas.
Faktor risiko pneumonia yang perlu diwaspadai antara lain usia di atas 65 tahun, usia di bawah 5 tahun, perokok, punya penyakit kronis, dan memiliki kelemahan sistem imun
Pneumonia biasanya diawal dengan gejala-gejala terlebih dahulu. Di bawah ini gejala yang muncul adalah batuk, demam, mual, muntah, sesak, nyeri dada, banyak berkeringat, keletihan, nyeri otot, napas cepat, tubuh terasa lemas, nafsu makan turun, dan nyeri kepala.