Pemilik TIenji Integrated Farm Eko Utomo sedang memberikan informasi terkait budidaya kambing dan domba kepada pengunjung, belum lama ini. Foto : Hendrati Hapsari
KLATEN, (ERAKINI) - Salah satu sudut di Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah memberikan alternatif wisata edukasi untuk keluarga. Sejenak melepaskan diri dari penatnya tekanan ibukota dengan mengunjungi Tienji Integrated Farm tepatnya berlokasi di Macanan Blimbing Kecamatan Karangnongko ini untuk belajar berternak dan berkebun.
Ide awal Tienji Integrated Farm berasal dari Eko Utomo yang ingin meninggalkan kehidupan perkotaan dan memilih tinggal di kampung halaman. Keputusan Eko pindah dari keriuhan ibukota dilatari kebutuhan ritme kehidupan lebih pelan untuk anak.
“Ke dua anak saya berkebutuhan khusus dan tidak bisa hidup di Jakarta karena cepat, terbatas dan mahal. Akhirnya kami memutuskan pindah ke Klaten karena saya asli orang sini,” kata Pemilik Tienji Integrated Farm, Eko Utomo kepada EraKini, belum lama ini.
Tienji merupakan penggabungan dua buah hati Eko Utomo yakni Thesa dan Jason. Tekat Eko memutuskan pindah ke Klaten sekitar lima tahun lalu membuka kembali memori.
Saat itu dirinya belum memiliki lahan. Terlebih perjalanan karier di ibukota dan tranformasi karier menjadi pertimbangan tersendiri. Meski begitu, dia bertekat memulai perjalanan baru demi keluarga. Selang lima bulan, Eko Utomo mendapatkan lahan impin di tanah kelahirannya.
Ada tiga misi saat mengembangkan Tienji. Misi pengembangan edukasi menjadi sarana pendidikan dan pengembangan kemandirian bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Anak-anak istimewa ini akan mendapatkan sarana dan prasarana agar mereka bisa mandiri dengan cara belajar dan bekerja di pertanian dan peternakan terpadu,” kata penyandang gelar doktor tersebut.
Di tempat ini anak-anak sekaligus orang tua akan langsung mengalami dan praktek di lapangan. Eko akan senang hati berbagi pengalaman, pengetahuan dan perencanaan bisnis bagi pengunjung yang tertarik memulai usaha.
Selanjutnya, Tienji juga mengembangkan enterpreneurship dan menjadi pusat pemberdayaan masyarakat di wilayah Joglosemar khususnya Klaten. Eko bercita-cita tempat dibangun ini menjadi pusat pengembangan agro bisnis meliputi kambing, domba, ayam kampung, ikan, sayur organik, buah dan lainnya.
“Menyediakan tempat belajar, praktek, akses keuangan, pengembangan sistem dan pendampingan serta seluruh ekosistem dibutuhkan,” kata dia.
Kemudian, dari sisi entertainment dikembangkan untuk menangkap kebutuhan warga kota Joglosemar untuk bisa mendapatkan pengalaman baru dan segar dibandingkan hidup perkotaan.
“Kami baru saja membuka Kafe Pinarak Tienji sebagai bagian entertainment lokasinya berdekatan hanya terpisah jalan,” kata dia.
Pengunjung bisa mengunjungi kandang dan kebun ssmbari menunggu makanan datang. Uniknya, bahan baku menu dari hasil kandang dan kebun sendiri. Misalkan, gulai kambing, gultik, nasi goreng ayam kampung, ayam goreng kampung, sate goreng dan lainnya.
Secara total luas lahan peternakan mencapai 5.000 meter persegi. Pun demikian dengan lahan perkebunan juga mencapai 5.000 meter persegi. Peternakan kambing dan domba mencapai 500 ekor sedangkan ayam kampung sekitar 300 ekor.
Di kebun ada 50 pohon durian meliputi musang king, duri hitam, bawor, super tembaga dan namlung. Adapun, jenis alpukat meliputi miki, kendil, aligator dan lainnya.
Eko juga menawarkan konsultan bisnis bagi pengunjung yang ingin merambah dunia peternakan dan perkebunan.
Eko juga memiliki angan-angan membuka sekolah anak membidik anak berkebutuhan khusus. Berkaca dari pengalaman mencari sekolah untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan patokan harga tidak murah. Sedangkan, dia menyakini masih banyak ABK tidak terakomodasi pendidikan layak.
“Anak-anak menempuh pendidikan tidak hanya fokus pendidikan tapi juga belajar dari alam,” begitu dia beralasan.