Masjid Jamik Bengkulu, Jejak Soekarno dalam Wisata Halal di Tanah Lada
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Pemerintah tengah mendorong pengembangan wisata halal sebagai motor ekonomi daerah. Di Bengkulu, terdapat sebuah masjid bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban sekaligus pergerakan nasional, yakni Masjid Jamik Bengkulu.
Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menyimpan nilai sejarah. Arsitekturnya merupakan rancangan Ir. Soekarno ketika menjalani masa pengasingan di Bengkulu pada akhir 1930-an. Karena itu, masyarakat menjulukinya “Masjid Bung Karno”.
Dilansir dari berbagai sumber pada Selasa (9/9/2025), awalnya, masjid ini hanyalah sebuah surau kecil yang dikenal dengan nama Surau Lamo. Pada abad ke-18, bangunan itu dipindahkan ke lokasi sekarang dengan bentuk sederhana: dinding kayu, atap rumbia, dan lantai tanah. Masjid didirikan oleh Daeng Makulle, seorang Datuk Dagang dari Tengah Padang.
Ketika Soekarno tiba di Bengkulu pada 1938, masyarakat setempat menginginkan perbaikan masjid. Bung Karno kemudian membantu merancang ulang bangunan tersebut. Beberapa bagian dipertahankan, sementara lantai dan dinding ditinggikan. Bagian atap dan tiang menjadi sentuhan khas Soekarno.
Kini, struktur Masjid Jamik Bengkulu tidak banyak berubah. Renovasi sudah dilakukan beberapa kali, termasuk tahun 2000 ketika area masjid menyempit akibat pelebaran jalan. Pada 2004, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkannya sebagai cagar budaya, status yang diperkuat dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010.
Arsitektur Jawa dan Sumatra


















