Masjid Dato Tiro di Bulukumba, Jejak Awal Penyebaran Islam di Sulawesi yang Kini Jadi Ikon Wisata Halal
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Jejak penyebaran Islam di Nusantara tidak hanya terasa di Indonesia bagian Barat, tetapi merata di hampir seluruh penjuru Tanah Air. Salah satu bukti adanya dakwah Islam di suatu daerah yakni kehadiran tempat ibadah yang kini banyak berubah menjadi ikon wisata halal.
Di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, misalnya. Tempat ini memiliki salah satu masjid bersejarah yang menjadi saksi awal penyebaran Islam di wilayah selatan Sulawesi. Masjid tersebut adalah Masjid Nurul Hilal Dato Tiro, yang dikenal sebagai masjid tertua di Bulukumba.
Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Senin (6/7/2026), Masjid ini berada di Kecamatan Bonto Tiro, sekitar 36 kilometer dari pusat Kota Bulukumba. Bangunan tersebut didirikan pada 1605 M oleh ulama penyebar Islam, Al Maulana Khatib Bungsu atau yang lebih dikenal sebagai Dato Tiro.
Sebelum berganti nama pada 1997, masjid ini dikenal sebagai Masjid Hila-Hila. Pergantian nama dilakukan untuk semakin menguatkan kaitannya dengan sosok Dato Tiro yang memiliki peran besar dalam perkembangan Islam di Bulukumba.
Arsitektur Perpaduan Jawa dan Sulawesi
Salah satu daya tarik Masjid Nurul Hilal Dato Tiro adalah bentuk arsitekturnya yang unik. Kubah masjid dibuat bertingkat tiga dengan bentuk menyerupai rumah adat Jawa, sementara desain dinding dan jendelanya mengadopsi unsur rumah tradisional Sulawesi Selatan.
Di bagian luar berdiri dua menara setinggi sekitar 20 meter yang menambah kemegahan bangunan. Sementara itu, bagian dalam masjid ditopang empat tiang utama dan dihiasi kaligrafi di sejumlah sudut dinding.
“Masjid ini telah mengalami lima kali renovasi sejak pertama kali berdiri. Renovasi perdana dilakukan pada 1625, sedangkan pemugaran terakhir dilaksanakan pada 2011 dengan tetap mempertahankan nilai sejarah bangunannya,” tulis laman tersebut.
Kolam Hila-Hila Sarat Legenda
Di samping masjid terdapat kolam yang dikenal sebagai Kolam Hila-Hila atau Sumur Panjang. Tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah.
Menurut cerita masyarakat setempat, mata air kolam tersebut muncul ketika Dato Tiro menggoreskan tongkatnya ke tanah. Air kemudian memancar membentuk aliran berkelok menyerupai ular hingga akhirnya menjadi kolam yang masih ada sampai sekarang.
“Tak jauh dari lokasi masjid, sekitar 100 meter, juga terdapat makam Dato Tiro yang menjadi tujuan ziarah umat Islam dari berbagai daerah,” lanjut artikel di laman bulukumbakab.go.id itu.
Islamic Center Dato Tiro Jadi Ikon Baru Bulukumba
Selain memiliki masjid bersejarah, Bulukumba juga memiliki Masjid Islamic Center Dato Tiro yang menjadi salah satu ikon baru daerah tersebut. Masjid ini selesai dibangun pada 28 Juni 2014 dan diresmikan langsung oleh Bupati Bulukumba saat itu, H Zainuddin Hasan.
Peresmian dilakukan pada malam hari bertepatan dengan pelaksanaan salat Tarawih berjamaah. Saat itu, sekitar 5.000 jamaah memadati masjid untuk melaksanakan Tarawih perdana.
Meski ketika diresmikan pembangunan belum sepenuhnya rampung, seperti pemasangan plafon, penataan taman, dan area parkir, bangunan masjid sudah dapat digunakan untuk kegiatan ibadah.
Megah dengan Dominasi Warna Biru dan Kuning
Masjid Islamic Center Dato Tiro tampil dengan desain modern yang mudah dikenali. Kubah berukuran besar menjadi pusat perhatian dengan perpaduan warna biru terang, biru muda, dan putih yang membentuk pola geometris.
Sementara itu, keseluruhan bangunan didominasi warna kuning dan biru sehingga terlihat mencolok dari kejauhan. Sebelum memasuki ruang utama, jamaah akan melewati sejumlah anak tangga. Di bagian dalam, lantai marmer menghadirkan suasana sejuk yang semakin terasa berkat sirkulasi udara dari jendela-jendela berukuran besar di sisi kanan dan kiri bangunan.
Interior masjid juga dipenuhi hiasan kaligrafi dan ornamen khas yang memperkuat kesan megah sekaligus nyaman bagi para jamaah.


















