Jemaah haji terlihat istirahat usai melaksanakan salat di Masjid Abu Bakar yang ada di tower Makkah (Foto: Media Center Haji 2026).
MAKKAH, (ERAKINI) - Di balik deretan hotel mewah dan pusat perbelanjaan yang kini mengelilingi Masjidil Haram, Makkah, tersimpan jejak sejarah penting dalam perjalanan Islam. Kawasan yang kini dipenuhi bangunan modern itu dulunya merupakan permukiman Bani Taim, tempat lahir sahabat terdekat Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Jejak sejarah tersebut masih dikenang melalui keberadaan Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang kini berada di lantai empat Tower Makkah, salah satu dari empat menara yang berdiri paling dekat dengan pelataran Masjidil Haram. Hal itu disampaikan penerjemah khutbah resmi asal Indonesia di Masjidil Haram, Ustaz Ahmad Musyaddad, saat mendampingi tim Media Center Haji (MCH) berkeliling kawasan sekitar Masjidil Haram, pekan lalu.
Musyaddad menjelaskan, Tower Makkah sebelumnya dikenal sebagai Hilton, kemudian berganti nama menjadi Millennium, sebelum akhirnya menggunakan nama Tower Makkah. Menurut dia, bersama tiga menara lain di sekitar Masjidil Haram, gedung tersebut memiliki lantai khusus yang difungsikan sebagai masjid.
"Jemaah yang salat di sana langsung terhubung dengan imam Masjidil Haram, sehingga tidak memerlukan imam tersendiri," ujarnya.
Dia mengatakan, masjid di tower lain umumnya menggunakan nama hotel masing-masing. Namun, berbeda dengan Tower Makkah yang tetap mempertahankan nama Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Musyaddad menjelaskan, penamaan itu bukan tanpa alasan. Berdasarkan sejumlah referensi sejarah Makkah, kawasan tersebut merupakan bekas permukiman Bani Taim, klan tempat Abu Bakar Ash-Shiddiq berasal.
"Kalau kita track beberapa referensi sejarah Makkah, kita akan menjumpai kawasan ini dahulunya adalah kawasan pemukiman Bani Taim, satu klan yang darinyalah lahir sahabat Nabi SAW yang paling mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq," katanya.
Ia menuturkan, jauh sebelum tower-tower tinggi berdiri, di lokasi tersebut telah terdapat Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq sejak sekitar abad ke-6 Hijriah. Saat proyek perluasan Masjidil Haram dilakukan, seluruh bangunan di kawasan itu, termasuk masjid bersejarah tersebut, diratakan untuk pembangunan kawasan baru.
"Saat itu kawasan ini belum masuk ke area Masjidil Haram. Di tempat ini sudah berdiri Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Demi perluasan Masjidil Haram, semua bangunan diratakan, termasuk masjid tersebut, lalu berdirilah tower-tower besar ini," jelasnya.
Meski bangunan lamanya telah hilang, nama Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah kawasan tersebut.
Rumah Abu Bakar Menjadi Titik Awal Strategi Hijrah
Musyaddad kemudian mengisahkan pentingnya rumah Abu Bakar dalam sejarah hijrah Rasulullah SAW. Mengutip hadis sahih riwayat Imam Bukhari dari Aisyah RA, ia menjelaskan bahwa pada hari hijrah dari Makkah menuju Madinah, Rasulullah SAW mendatangi rumah Abu Bakar pada siang hari dengan wajah tertutup.
Sebelum memasuki rumah, Rasulullah SAW terlebih dahulu memastikan kondisi di dalam rumah aman. "Beliau bertanya kepada Abu Bakar, siapa yang ada di dalam rumah? Karena apa yang akan dibicarakan adalah sesuatu yang sangat rahasia," ujarnya.
Saat itu, masih ada anggota keluarga Abu Bakar yang belum memeluk Islam, yakni Abdurrahman bin Abu Bakar. Setelah Abu Bakar memastikan bahwa yang berada di dalam rumah hanyalah orang-orang yang dapat dipercaya, Rasulullah SAW pun masuk.
Di rumah itulah keduanya menyusun strategi perjalanan hijrah. Musyaddad menjelaskan, Rasulullah SAW tidak langsung bergerak ke arah utara menuju Madinah, tetapi justru memilih jalur selatan menuju Jabal Tsur agar tidak mudah dilacak kaum Quraisy.
"Bagi Nabi SAW perjalanan ke arah utara tidak strategis. Mudah terbaca, mudah dilacak, mudah dikejar, dan mudah ditangkap. Maka beliau menyepakati dengan Abu Bakar untuk membalik haluan ke arah selatan menuju Jabal Tsur," jelasnya.
Sekitar empat kilometer dari kawasan tersebut terdapat Jabal Tsur, tempat Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersembunyi selama tiga hari tiga malam sebelum melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Menurut Musyaddad, berbagai sumber sejarah menyebut Rasulullah SAW menjalankan strategi yang sangat hati-hati selama perjalanan menuju gua tersebut.
"Dalam sebagian perjalanan beliau berjalan dengan jinjit agar jejak kakinya tidak membekas," katanya.
Selain itu, Abu Bakar juga meminta Amir bin Fuhairah menggiring kambing di belakang perjalanan mereka agar jejak kaki Rasulullah SAW tersamarkan. Namun, meski strategi telah disusun secara matang, kaum Quraisy tetap berhasil melacak hingga mulut Gua Tsur.
Dalam kondisi itu, Abu Bakar berkata, "Ya Rasulullah, andai mereka melihat sedikit saja ke arah bawah, tertangkap kita." Rasulullah SAW kemudian menenangkan sahabatnya. "Wahai Abu Bakar, apa pendapatmu tentang dua orang bila yang ketiganya adalah Allah SWT?"
Musyaddad mengatakan, peristiwa hijrah tersebut mengandung dua pelajaran penting bagi umat Islam. Pertama, Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menyusun strategi dan berikhtiar secara maksimal meskipun beliau adalah utusan Allah SWT.
"Islam mengajarkan kepada kita tawakal kepada Allah dengan sebaik-baik tawakal, juga mengajarkan kepada kita ikhtiar dengan sebaik-baik ikhtiar," ujarnya.
Pelajaran kedua, menurut dia, keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh kecermatan manusia dalam menyusun rencana.
"Meski Rasulullah SAW sudah berikhtiar dengan ikhtiar terbaik, ternyata musuh tetap sampai di mulut gua. Di atas semua perencanaan manusia tetap ada pertolongan Allah yang lebih utama," katanya.
Karena itu, Musyaddad mengingatkan agar setiap orang tidak menjadi sombong ketika berhasil dan tidak berputus asa ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan.
"Kalau rencana-rencana kita berhasil, tidak membuat kita jumawa. Dan kalau tidak berhasil, tidak membuat kita kecewa, karena Allah SWT pasti menyisipkan hikmah di balik itu semua," pungkasnya.