Masjid Wapauwe di Maluku Tengah (Foto: Indonesia Kaya)
JAKARTA, (ERAKINI) - Indonesia memiliki banyak masjid bersejarah yang menjadi saksi penyebaran Islam di berbagai daerah. Salah satu yang paling bersejarah adalah Masjid Wapauwe di Negeri Kaitetu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Masjid ini dikenal sebagai masjid tertua di Maluku sekaligus salah satu masjid tertua di kawasan Indonesia Timur. Keberadaannya menjadi bukti penting perjalanan dakwah Islam di wilayah kepulauan rempah tersebut.
Dikutip dari Indonesia Kaya, Jumat (3/7/2026), Masjid Wapauwe diperkirakan dibangun pada 1414. Dengan usia yang telah mencapai sekitar tujuh abad, masjid ini masih berdiri kokoh dan tetap difungsikan sebagai tempat ibadah. Keberadaan Masjid Wapauwe juga menjadi penanda awal masuknya Islam ke wilayah Maluku.
Berdasarkan catatan sejarah, Islam menyebar ke Indonesia Timur melalui jalur perdagangan yang melibatkan para saudagar Arab dan Gujarat, India, yang datang untuk berdagang rempah-rempah sekaligus menyebarkan ajaran Islam.
Berawal dari Kesultanan Jailolo
Sejarah juga mencatat, Masjid Wapauwe mula-mula dibangun pada masa pemerintahan Kesultanan Jailolo, salah satu kerajaan Islam besar yang pernah berdiri di kawasan Maluku Utara. Pada awal berdirinya, masjid tersebut bernama Masjid Wawane karena lokasinya berada di lereng Gunung Wawane.
Seiring waktu, bangunan masjid dipindahkan ke Negeri Kaitetu. Di lokasi baru tersebut banyak tumbuh pohon mangga hutan yang dalam bahasa setempat disebut wapa. Dari situlah nama Wapauwe berasal, yang secara harfiah dimaknai sebagai masjid yang didirikan di bawah pohon mangga hutan.
Berada di Pesisir Utara Pulau Ambon Masjid Wapauwe terletak di Negeri Kaitetu, sekitar 35 kilometer dari Kota Ambon. Perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh menggunakan kendaraan bermotor dengan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam. Meski jaraknya relatif dekat, kondisi jalan yang berkelok dan melintasi kawasan pegunungan membuat waktu tempuh menjadi lebih lama. Sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhi panorama pegunungan dan pesisir utara Pulau Ambon yang masih asri.
Dibangun Tanpa Menggunakan Paku
Salah satu daya tarik utama Masjid Wapauwe adalah arsitekturnya yang sederhana, tetapi sarat nilai sejarah. Bangunan masjid tidak memiliki kubah dan bentuknya sekilas menyerupai rumah joglo khas Jawa. Desain tersebut kerap dibandingkan dengan Masjid Agung Demak yang juga merupakan peninggalan sejarah Islam di Indonesia.
Keunikan lainnya terletak pada konstruksi bangunan yang seluruh sambungannya dibuat tanpa menggunakan paku. Sebagai gantinya, para pembangun menggunakan sistem pasak kayu sehingga struktur bangunan dapat dibongkar dan dipasang kembali (knock down).
Dinding masjid juga memanfaatkan pelepah sagu atau gaba-gaba yang dipadukan dengan campuran kapur pada sebagian bagian tembok. Meski telah beberapa kali mengalami renovasi, bentuk asli Masjid Wapauwe tetap dipertahankan sehingga karakter bangunan bersejarah ini tidak berubah.
Menyimpan Mushaf Al-Qur'an Berusia Ratusan Tahun
Di bagian dalam masjid masih berdiri empat tiang utama yang merupakan struktur asli sejak bangunan pertama kali didirikan. Selain itu, terdapat sebuah bedug tua yang diperkirakan seusia dengan masjid dan hingga kini masih digunakan untuk keperluan ibadah.
Masjid Wapauwe juga menyimpan sejumlah benda bersejarah, salah satunya mushaf Al-Qur'an tulisan tangan yang diperkirakan dibuat pada abad ke-16 menggunakan kertas berkualitas tinggi.
Mushaf tersebut menjadi salah satu naskah Al-Qur'an tertua yang masih tersimpan di Indonesia. Bersama berbagai peninggalan lainnya, benda-benda tersebut dirawat secara turun-temurun oleh keluarga penjaga masjid bermarga Hatuwe.
Warisan Sejarah dan Budaya Maluku Masjid Wapauwe bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga merupakan warisan budaya dan sejarah yang mencerminkan perjalanan panjang Islam di Indonesia Timur. Keaslian bangunan, teknik konstruksi tradisional, serta koleksi benda-benda bersejarah yang tersimpan di dalamnya menjadikan Masjid Wapauwe sebagai salah satu situs cagar budaya yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Maluku maupun Indonesia secara keseluruhan.