Pameran Halal Fair Series pada tanggal 8-10 Desember 2023 di Hall 3-3A, ICE BSD, Tangerang (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) kembali menginisiasi langkah strategis untuk memperkuat industri halal nasional melalui penyelenggaraan Indonesia International (IIHF) 2025. Acara bertaraf internasional ini akan berlangsung pada 20-22 Juni 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Kepala BPJPH, Ahmad Haikal Hasan mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para pelaku industri halal, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil (UMK), untuk memperkenalkan produknya secara luas melalui booth yang masih tersedia dalam pameran tersebut.
Festival ini akan menampilkan beragam produk bersertifikat halal dari puluhan pelaku usaha, mulai dari skala besar, menengah, hingga mikro. Selain itu, sejumlah Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) seperti LPH Mutu Harmoni International, LPPOM, ID Survey, dan ESQ, serta Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) seperti LP3H ESQ dan LP3H Ikatan Pesantren Indonesia, dipastikan turut ambil bagian dalam ajang ini.
“IIHF merupakan panggung internasional yang dirancang untuk memperkuat ekosistem halal yang inklusif, dinamis, dan terbuka untuk semua kalangan. Ini saatnya kita mengenalkan produk halal dari Indonesia ke kancah dunia. Halal for everyone,” ujar Ahmad Haikal Hasan seperti dilansir dari situs resmi BPJPH, Selasa (17/6/2025).
Peserta dari luar negeri pun turut meramaikan, termasuk dari Korea Selatan, Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, Malaysia, dan India. Perusahaan besar seperti PT Suri Nusantara Jaya, salah satu distributor dan importir daging halal terbesar di Indonesia, juga akan berpartisipasi.
Lebih lanjut, Haikal menyebutkan bahwa IIHF ditargetkan mampu menarik hingga 8.000 pengunjung setiap harinya. Dalam rangkaian kegiatan ini, BPJPH juga menargetkan pembagian 10.000 sertifikat halal gratis bagi UMK, yang diberikan melalui program pendampingan sertifikasi. Diharapkan, sertifikasi ini dapat mendorong UMK untuk menghasilkan produk yang sesuai standar halal dan mampu bersaing di pasar, termasuk ekspor.
“Halal bukan sekadar patuh pada aturan, tapi juga nilai ekonomi yang kuat dan membuka akses ekspansi bisnis ke tingkat internasional,” katanya.
Tak hanya menjadi ajang pameran produk, IIHF juga akan diisi oleh seminar kewirausahaan, diskusi seputar bisnis halal, hingga kajian Islami yang menghadirkan tokoh-tokoh publik dan ulama ternama seperti Ustadz Dennis Lim.
Menurut Haikal, kegiatan ini tidak hanya memperkuat posisi produk halal di pasar domestik, tetapi juga berperan dalam mendorong Indonesia naik peringkat dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI), sebagaimana dilaporkan oleh DinarStandard dalam laporan tahunan State of the Global Islamic Economy (SGIE).
“Inilah alasannya kami mengundang pelaku usaha dari berbagai negara, dan responsnya sangat positif. Maka dari itu, para pelaku usaha dalam negeri perlu memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” ujarnya.
Pemerintah sendiri menargetkan Indonesia bisa menduduki posisi teratas dalam produksi produk halal global dalam waktu dekat. Hal ini menjadi bagian dari strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional berbasis industri halal.