Contoh produk kaldu blok ayam berlogo halal (kiri) dan tidak berlogo halal (kanan). Foto: Dok Pribadi/Fitri Rachmadita
JAKARTA, (ERAKINI) – Jelang akhir tahun, mungkin banyak masyarakat Indonesia yang sedang bersiap berangkat liburan ke luar negeri. Namun, bagi Muslim perlu mengetahui tips mencari makanan halal di luar negeri, terutama di negara Eropa.
Apalagi bagi yang pertama kali menginjakkan kaki di Benua Biru, tentu tidak mudah menemukan . Ketika berada di daerah minoritas Muslim, jarang ditemukan restoran dengan logo halal berwarna ungu. Banyak juga produk makanan yang tidak mencantumkan logo halal seperti di Indonesia.
Lantas, bagaimana cara mencari makanan halal di negara minoritas Muslim seperti Eropa? Fitri Rachmadita, salah satu mahasiswa Indonesia yang menempuh studi Food Quality Management di Wageningen University melalui beasiswa LPDP, membagikan tips dan trik mencari makanan halal di negara-negara minoritas Muslim, sebagaimana dikutip dari laman Indonesia Mengglobal, Sabtu (13/12/2025).
1. Bahan yang Memengaruhi Kehalalan Produk Makanan
Menurut dia, terdapat dua kategori makanan yang perlu diketahui kehalalannya di luar negeri, yaitu produk olahan daging dan produk kemasan yang telah melalui berbagai proses industri.
Pada dasarnya, terdapat pengelompokan kehalalan produk hewani berdasarkan jenisnya, yaitu haram yang berasal dari babi dan halal yang dapat berasal dari ayam, sapi, dan ikan. Namun, kehalalan ini bisa berubah menjadi syubhat atau ragu-ragu jika tidak diketahui metode penyembelihannya.
Untuk produk hewani dan turunannya (sosis, nugget, daging giling, saus kaleng yang mengandung potongan daging, dan kaldu bubuk), sebaiknya memilih produk yang memiliki logo atau sertifikat halal. Sebab, kehalalan produk hewani tidak dapat ditentukan hanya dari daftar bahan pada kemasan. Produk hewani yang tidak memiliki logo halal masuk ke dalam kategori syubhat. Sebenarnya, di Uni Eropa terdapat beberapa produk yang memiliki sertifikat halal, tetapi tidak mencantumkan logo.
Untuk produk kemasan yang tidak mengandung daging olahan, perlu memperhatikan kadar alkohol dan sumber bahan tambahan pangan. Pertama adalah alkohol. Menurut Fatwa MUI Nomor 8 Tahun 2018, terdapat kadar alkohol yang diperbolehkan, yaitu maksimal 0,5 persen, dan kadar tersebut ditentukan melalui pengujian laboratorium.
Namun, hal ini menyulitkan masyarakat umum untuk menghitung kadar alkohol dalam produk pangan, sehingga lebih baik dihindari. Beberapa jenis alkohol yang kerap dimasukkan dalam produk pangan antara lain wine pada olahan pasta, shoyu, sake, dan mirin pada makanan Jepang (sushi), angciu pada makanan China, serta bourbon, vodka, dan rum pada olahan roti.
Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk memengaruhi sifat atau bentuk pangan. Menurut Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2019, terdapat 27 jenis BTP, di antaranya pengawet, pengental, pewarna, dan pemanis.
Di benua Eropa, BTP ditandai dengan kode E pada kemasan. Titik kritis kehalalan bahan tambahan pangan dapat ditinjau berdasarkan tujuan penggunaannya, sumber bahan bakunya, serta cara pengolahannya.
2. Aplikasi Halal Checker
Setelah mengetahui titik kritis bahan makanan pada produk olahan, tentu akan merepotkan jika harus mengecek satu per satu. Namun, di era digital saat ini terdapat beberapa aplikasi yang dapat digunakan, antara lain:
- Google Lens
Bagi yang tinggal di negara dengan bahasa ibu selain bahasa Inggris, Google Lens dapat digunakan untuk menerjemahkan dan mengecek kandungan babi serta alkohol yang tercantum pada kemasan.
- Halal Checker
Untuk pengecekan sumber BTP, dapat menggunakan aplikasi Halal Checker. Terdapat tiga kategori hasil pencarian, yaitu halal, haram, dan mushbooh. Mushbooh berasal dari bahasa Arab yang berarti “tersangka” atau suspected, yakni status kehalalan produk belum jelas karena ketidakpastian asal bahan. Karena statusnya belum jelas, sebaiknya produk tersebut dihindari.
- Halal Scanner
Jika aplikasi Halal Checker dirasa masih cukup rumit, terdapat aplikasi yang lebih praktis, yaitu Halal Scanner. Cukup memindai barcode produk, lalu akan muncul informasi apakah makanan tersebut dapat dikonsumsi atau tidak. Namun, basis data aplikasi ini masih terbatas sehingga terkadang perlu tetap menggunakan aplikasi Halal Checker.