Masjid Agung Demak, Jejak Awal Peradaban Islam dan Pusat Kota Bersejarah di Jawa Tengah
Abdul Rahman Ahdori
DEMAK, (ERAKINI) - Masjid Agung Demak menjadi salah satu ikon sekaligus landmark penting di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dikenal sebagai masjid tertua di Pulau Jawa yang didirikan oleh Wali Songo, dan memiliki peran besar dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga diyakini menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Demak Bintoro. Arsitekturnya yang khas mengusung struktur bangunan tradisional Indonesia dengan atap berbentuk limasan bertingkat tiga. Bentuk tersebut melambangkan tiga pilar utama dalam ajaran Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan.
Sejarah mencatat, pendirian masjid ini melibatkan Raden Fattah bersama para wali. Salah satu penanda penting adalah prasasti bergambar bulus yang menunjukkan tahun 1401 Saka atau sekitar abad ke-15 Masehi.
Di bagian dalam masjid, terdapat empat tiang utama yang dikenal sebagai saka guru. Keunikan lainnya adalah salah satu tiang berupa “saka tatal”, yaitu tiang yang disusun dari potongan-potongan kayu. Keempat saka guru tersebut memiliki tinggi sekitar 16,3 meter dan berfungsi sebagai penyangga utama atap masjid yang bertingkat.
Tidak hanya itu, kawasan masjid juga dilengkapi museum yang menyimpan berbagai koleksi bersejarah terkait perkembangan Masjid Agung Demak dan penyebaran Islam di Jawa.
Mengutip penelitian Adam Ramadhan dalam Jurnal JIAA : Journal of Islamic Art and Architecture, Vol. 3 (1) April 2025 berjudul Masjid Agung Demak Sebagai Artefak Urban Penanda Sejarah Pembentukan Kota Demak, Selasa (31/3/2026), secara historis, Masjid Agung Demak dan alun-alun di sekitarnya merupakan pusat awal perkembangan kota.
Awalnya, kawasan ini berupa pesantren Glagah Wangi yang berada di tengah hutan Bintara, sebelum berkembang menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Demak.
Artikel itu juga menyebutkan bahwa dalam kajian arsitektur kota, Masjid Agung Demak dipandang sebagai artefak urban yang memiliki peran penting dalam pembentukan struktur kota sejak masa embrio. Konsep ini sejalan dengan pemikiran Aldo Rossi yang menyebut kota sebagai sebuah “arsitektur total”, di mana elemen-elemen pentingnya memiliki nilai keberlanjutan atau permanence.
“Masjid Agung Demak dinilai bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan juga locus atau penanda utama kota yang merepresentasikan sejarah dan identitas Demak. Oleh karena itu, pelestarian keaslian arsitektur masjid menjadi hal yang krusial,” lanjut artikel tersebut.
Para ahli menilai, diperlukan strategi komprehensif untuk menjaga keberadaan Masjid Agung Demak, termasuk melalui kajian mendalam yang melibatkan perencana kota, sejarawan, serta para pemangku kepentingan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengembalikan dan mempertahankan karakter asli arsitektur masjid, sebagaimana tercatat dalam naskah-naskah sejarah.
“Selain itu, penataan kawasan masjid dan alun-alun di sekitarnya juga perlu diarahkan agar tetap mempertahankan peran sebagai elemen utama pusat kota, sekaligus mampu mengikuti dinamika sosial dan ekonomi masyarakat modern,” tulisnya.
Dengan nilai sejarah dan arsitektur yang dimilikinya, Masjid Agung Demak tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga simbol penting perjalanan peradaban Islam di Pulau Jawa.
















