JAKARTA, (ERAKINI) - Masjid Istiqlal merupakan masjid nasional Indonesia yang terletak di Jakarta Pusat. Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti 'kemerdekaan', sebagai penanda masjid ini dibangun untuk memperingati kemerdekaan Indonesia.
Masjid Istiqlal kerap disebut sebagai masjid termegah di Asia Tenggara. Tak heran, bangunan yang dibangun pada era Presiden pertama RI, Soekarno, ini kerap memikat perhatian wisatawan mancanegara berkat arsitektur dan nilai sejarah yang dikandungnya.
Dirangkum dari berbagai sumber, Jumat (6/2/2026), berikut enam keunikan Masjid Istiqlal yang membuat dunia internasional kagum.
1. Masjid terbesar ke-8 di dunia
Selain dikenal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal juga tercatat sebagai masjid terbesar kedelapan di dunia jika dilihat dari kapasitas jamaah yang dapat ditampung.
2. Mampu menampung hingga 200.000 jamaah
Masjid Istiqlal mampu menampung lebih dari 200.000 jamaah dalam satu waktu, baik di ruang utama maupun area pelataran. Kapasitas besar ini menjadikannya pusat kegiatan keagamaan berskala nasional dan internasional.

3. Berada di pusat kenegaraan dan berdampingan dengan gereja
Letak Masjid Istiqlal sangat strategis karena berada di kawasan pusat kenegaraan, dekat dengan Istana Merdeka. Masjid ini juga berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta serta tak jauh dari Gereja Immanuel. Kedekatan lokasi rumah-rumah ibadah tersebut kerap dipandang sebagai simbol nyata kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
4. Dicetuskan oleh Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta
Gagasan pembangunan Masjid Istiqlal pertama kali dicetuskan oleh Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta. Ia memandang perlu adanya masjid nasional di ibu kota yang dapat menjadi pusat syiar Islam sekaligus dikunjungi oleh berbagai bangsa.
Pada 1951, Hatta menginisiasi pertemuan dengan sejumlah tokoh nasional dan ulama, antara lain Sjafruddin Prawiranegara dan Hamka, untuk membahas rencana pendirian masjid nasional. Dalam pertemuan tersebut, dibentuk panitia pembangunan masjid yang bersifat swasta dengan dukungan pemerintah.
Panitia tersebut diketuai oleh Assaat dengan wakil ketua Sjafruddin Prawiranegara, Hamka, dan Anwar Tjokroaminoto. Namun, dinamika politik pada masa Demokrasi Terpimpin membuat susunan panitia mengalami perubahan, terlebih setelah Mohammad Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1956.
5. Diwujudkan oleh Presiden Soekarno
Presiden Soekarno kemudian mengambil alih gagasan pembangunan masjid nasional dan merombak kepanitiaan yang ada. Panitia pembangunan Masjid Istiqlal secara resmi berdiri pada 1953 dan dipimpin oleh Anwar Tjokroaminoto. Setahun kemudian, Soekarno ditunjuk sebagai kepala teknis pengawas pembangunan.
Beberapa lokasi sempat diusulkan sebagai tempat pembangunan masjid. Mohammad Hatta mengusulkan kawasan Jalan Thamrin, tepatnya di lokasi yang kini berdiri Hotel Indonesia. Namun, Soekarno menegaskan bahwa masjid nasional harus berada di kawasan pusat kenegaraan, dekat Istana Merdeka dan Lapangan Merdeka.
Soekarno juga mendorong agar masjid dibangun berdekatan dengan Gereja Katedral Jakarta dan Gereja Immanuel sebagai simbol kerukunan antarumat beragama sesuai semangat Pancasila. Lokasi Taman Wijaya Kusuma di depan Gereja Katedral akhirnya dipilih, meski harus mengorbankan Benteng Prins Frederik yang dibangun pada 1837.
Arsitek Masjid Istiqlal adalah Friedrich Silaban, arsitek nasional yang dikenal dengan pendekatan arsitektur modern. Dalam rancangannya, Silaban mengusung tema “Ketuhanan”.
6. Mengusung arsitektur modern dan internasional
Masjid Istiqlal mengusung gaya arsitektur modern dan internasional dengan pendekatan formalisme baru. Bangunannya didominasi dinding dan lantai marmer serta ornamen geometris dari baja antikarat.
Bangunan utama masjid terdiri atas lima lantai dan satu lantai dasar. Di bagian atasnya berdiri satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang oleh 12 tiang utama. Selain itu, terdapat satu menara tunggal setinggi 96,66 meter yang menjulang di sisi selatan selasar masjid.
Keunikan arsitektur, nilai sejarah, serta pesan toleransi yang kuat menjadikan Masjid Istiqlal bukan hanya kebanggaan Indonesia, tetapi juga salah satu ikon Islam yang diakui dunia internasional.