Mengenal Masjid Raya Bandung, Surga Berburu Takjil Favorit Warga saat Ramadan
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Salah satu kegiatan yang ditunggu-tunggu saat Ramadan adalah berburu takjil untuk berbuka puasa. Di Kota Bandung, Jawa Barat, kawasan Masjid Raya Bandung menjadi salah satu titik yang hampir tak pernah sepi pembeli menjelang waktu maghrib.
Setiap sore, area sekitar masjid dipadati warga yang datang untuk ngabuburit sekaligus mencari hidangan berbuka. Beragam jenis takjil tersedia, mulai dari aneka gorengan, kolak, es buah, hingga jajanan tradisional khas Sunda. Menu favorit seperti kolak pisang dan bakwan pun melimpah, memudahkan pengunjung memilih sesuai selera.
Selain menjadi pusat kuliner musiman saat Ramadan, masjid yang berdiri megah di pusat Kota Bandung ini memiliki nilai sejarah panjang. Masjid Raya Bandung berstatus sebagai masjid provinsi Jawa Barat dan menjadi salah satu penanda penting perkembangan arsitektur Islam di Tatar Sunda.
Masjid ini pertama kali dibangun pada awal abad ke-19, sekitar tahun 1812. Dalam perjalanannya, bangunan tersebut telah mengalami sedikitnya delapan kali perombakan pada abad ke-19 dan lima kali perubahan besar pada abad ke-20.
Wajah masjid yang terlihat saat ini merupakan hasil renovasi besar pada periode 2001-2003. Peresmian dilakukan pada 4 Juni 2003 oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, H.R. Nuriana. Renovasi tersebut sekaligus menandai perubahan nama dari Masjid Agung Bandung menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, meski sebagian masyarakat masih akrab menyebutnya sebagai Masjid Agung Bandung.

Ikon Dua Menara Kembar
Kini, Masjid Raya Bandung identik dengan dua menara kembar setinggi 81 meter yang berdiri di sisi kiri dan kanan bangunan utama. Menara tersebut dibuka untuk umum setiap Sabtu dan Minggu, sehingga pengunjung dapat menikmati panorama Kota Bandung dari ketinggian.
Perubahan signifikan juga tampak pada bagian atap. Jika sebelumnya menggunakan atap joglo khas arsitektur Nusantara, kini bagian tengah masjid ditutup satu kubah besar yang diapit dua kubah lebih kecil di sisi kiri dan kanan. Dinding bangunan dilapisi batu alam berkualitas tinggi, mempertegas kesan kokoh dan monumental.
Secara keseluruhan, kompleks masjid berdiri di atas lahan seluas 23.448 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 8.575 meter persegi. Daya tampungnya sekitar 13.000 jamaah.
Tak hanya menjadi pusat ibadah, Masjid Raya Bandung juga menjelma ruang publik yang menyatukan unsur religi, sejarah, dan aktivitas sosial masyarakat, terutama saat Ramadan tiba.
















