Poster resmi film 'Jembatan Shiratal Mustaqim'. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 9 Oktober 2025 mendatang. (Foto: YouTube/Cinema 21).
JAKARTA, (ERAKINI) - Film terbaru berjudul 'Jembatan Shiratal Mustaqim' akan segera dirilis oleh rumah produksi Dee Company. Film horor yang menyatukan elemen mistis dan kritik sosial dalam balutan genre horor spiritual ini akan hadir di bioskop pada awal Oktober 2025 mendatang.
Disutradarai oleh Bounty Umbara, film ini menggunakan skenario hasil tulisan Erwanto Alphadullah. Di bawah arahan produser Dheeraj Kalwani, film ini hadir dengan pendekatan berbeda dari film horor pada umumnya.
Cerita yang ditawarkan tidak hanya mengandalkan unsur supranatural, tetapi juga menggali persoalan etika dan moral yang bersumber dari praktik korupsi dana bantuan bencana alam, khususnya pascatsunami di sebuah wilayah yang tidak disebutkan namanya.
Cuplikan teaser yang diluncurkan menyuguhkan visual yang mengesankan dan penuh ketegangan, memperlihatkan intrik-intrik para pelaku korupsi yang disajikan dengan efek visual canggih. Proses pengerjaan CGI disebut memakan waktu hingga satu tahun guna menghasilkan kualitas sinematik yang maksimal.
"Koruptor akan diadili di Padang Mahsyar sebelum menuju jembatan penghubung Neraka dan Surga. Dosa dari memakan hak rakyat membuat mereka terjatuh ke dahsyatnya api neraka," demikian keterangan di teasertrailer.
Sebagaimana dilihat dari teasertrailer yang dirilis oleh kanal YouTube Cinema 21, karakter utama dalam film 'Jembatan Shiratal Mustaqim' yaitu Arya (diperankan oleh Raihan Khan). Ia mulai mengalami serangkaian penglihatan aneh tentang sebuah jembatan gaib yang diyakini sebagai Shiratal Mustaqim—sebuah jalan sempit nan menakutkan yang menurut keyakinan agama, membentang di atas neraka dan menjadi jalur penentu nasib menuju surga atau sebaliknya setelah kematian.
Bersama ibunya (diperankan oleh Imelda Therinne), Arya mulai menyelidiki hubungan antara teror gaib yang ia alami dengan kasus penyelewengan dana bantuan. Namun pencarian jawaban mereka justru membuka tabir gelap yang menempatkan keduanya dalam situasi genting dan mengancam nyawa.
Film ini bukan hanya menakut-nakuti lewat adegan menyeramkan, tapi juga menyentil sisi psikologis dan batin penonton. Alur cerita yang kompleks dan atmosfer kelam membangun rasa penasaran sembari mengajak refleksi atas kehidupan, kematian, dan pilihan moral dalam kondisi krisis.