Humor Madura: Buka Warung 25 Jam
Abdul Rahman Ahdori
Suatu malam di pinggiran jalan Ibnu Batutah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Mad Nur dan Ahmadi saling berbincang tentang pemerintah yang melarang Warung Madura buka 24 jam.
Mad Nur adalah pria asal Pamekasan, Jawa Timur. Salah satu daerah yang masuk kawasan pulau Madura. Ia berangkat ke Ciputat untuk merantau dengan membuka warung kelontong. Sementara Ahmadi, merupakan mahasiwa Tafsir Hadis UIN Jakarta yang berasal dari Sampang.
Merasa berasal dari pulau yang sama, Mad Nur dan Ahmadi memang cukup akrab. Kadang-kadang, bila Ahmadi tidak punya uang, ia kerap ngutang di warungnya Mad Nur. Suatu waktu, ketika Ahmadi mau membeli satu batang rokok, tiba-tiba saja Ahmadi melemparkan pertanyaan soal isu yang sedang hangat yakni pelarangan buka usaha 24 jam bagi Warung Madura.
"Cong, de’remmah berung’ah be’en e totop pemerintah (bang gimana warungmu mau ditutup pemerintah?)," tanya Ahmadi.
"Beh arapah (loh kenapa)," tanya Mad Nur pura-pura tidak tahu soal berita pemerintah larang Warung Madura buka 24 jam.
"Ye margha’ e bukkak empak lekor jem (ya soalnya buka 24 jam)," jawab Ahmadi.
"Ah be’en jiah cong cong, pemerintah nekah salah sasaran, se’ e maksod dek berita nekah benni berung medureh

















