Sejarah Lebaran Ketupat, Waktu Pelaksanaan, dan Maknanya
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) - Bagi masyarakat Jawa, Lebaran Ketupat merupakan salah satu tradisi yang sangat dinantikan setelah Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan momen untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.
Lebaran Ketupat menjadi salah satu tradisi penting bagi masyarakat Muslim di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lebaran Ketupat bagi masyarakat Jawa kerap disebut juga dengan kegiatan Syawalan. Sebagaimana namanya, Lebaran Ketupat selalu identik dengan ‘kupat’ atau ketupat.
Berbeda dengan Idulfitri yang dirayakan pada 1 Syawal, Lebaran Ketupat dilaksanakan pada 7 atau 8 Syawal, tepat satu pekan setelah Idulfitri. Lebaran ketupat diadakan setelah menjalani puasa Syawal selama 6 hari. Hal ini merujuk dari sunnah Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan kepada umat Muslim untuk berpuasa sunnah 6 hari pada saat bulan Syawal.
Dikutip dari beberapa sumber, Kamis (3/4/2025), tradisi ini pertama kali diperkenalkan oleh Raden Mas Syahid alias Sunan Kalijaga, salah satu wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.
Saat menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi kupat menjadi dua istilah. Pertama, ba’da Lebaran (setelah puasa), masyarakat melaksanakan salat Idulfitri dan melakukan silaturahmi.
Kedua, ba’da Kupat (setelah Lebaran) atau 7 hari setelah Idulfitri. Saat ba’da Kupat, hampir setiap rumah di Jawa menganyam daun kelapa dalam bentuk ketupat yang akan dimasak kembali untuk dibagikan kepada kerabat terdekat.


















