Bagaimana Hukum Puasa Ramadhan untuk Pekerja Berat? Begini Penjelasannya!
Riduwan
PUASA di Bulan Ramadhan pada dasarnya merupakan kewajiban bagi setiap orang yang memeluk agama Islam, seperti halnya salat dan zakat.
Namun tidak semua orang muslim dapat melaksanakannya dengan baik karena suatu kondisi yang juga vital, seperti bekerja yang kebetulan mengandalkan kekuatan fisik. Misalnya, kuli bangunan, buruh tani, tukang kebun dan lain sebagainya, mereka tentu akan sulit bekerja jika disertai dengan puasa.
Sebab dapat mengakibatkan hal buruk terjadi. Padahal bekerja juga merupakan kewajiban, demi memenuhi nafkah diri maupun keluarga, dan menghindari kefakiran. Lalu bagaimana syariat Islam memandang fenomena tersebut?
Melansir laman resmi MUI yang menukil dari kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Syekh Wahbah al-Zuhaili. Ia mengemukakan pendapat Abu Bakar al-Ajiry terhadap hukum puasa bagi pekerja berat sebagai berikut:
قَالَ أَبُو بَكْرٍ الآجِرِي: مَنْ صَنَعَتْهُ شَـاقَـةٌ : فَـإِنْ خَافَ بِالصَّوْمِ تَلَفاً ، أَفطَرَ وَقَضَى إِنْ ضَرَّهُ تَرْكُ الصَنْعَةِ ، فَإِنْ لَمْ يَضُرُّهُ تَرْكُهَـا ، أَثِمَ بِالفِطْرِ ، وَإِنْ لَمْ يَنْتَفِ التَّضَرُّرُ بِتَرْكِهَا ، فَلاَإِثْمَ عَلَيْهِ بِـالفِطْرِ لِلْعُـذْرِ . وَقَرَّرَ جُمْهُورُ الفُقَهَاءِ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى صَاحِبِ العَمَلِ الشَّاقِّ كَالحَصَّادِ والخَبَّازِ وَالحَدَّادِ وعُمَّالِ المنَاجِمِ أَنْ يَتَسَحَّرَ وَيَنْوِيَ الصَّوْمَ ، فَإِنْ حَصَلَ لَهُ عَطَشٌ شَدِيْدٌ أَوْ جُوْعٌ شَدِيْدٌ يَخَافُ مِنْـهُ الضَّرَرُ ، جَازَ لَهُ الفِطْرُ ، وَعَلَيْهِ القَضَـاءُ ، فَـإِنْ تَحَقَّقَ الضَّرَرُ وَجَبَ الفِطْرُ
“Abu Bakar al-Ajiri mengatakan, seorang pekerja berat bila dia khawatir akan keselamatan nyawanya, boleh berbuka, akan tetapi tetap menggantinya dengan catatan pekerjaan tersebut memang benar-benar tidak bisa ditinggalkan (bila ditinggalkan akan berakibat fatal, mudharat). Apabila pekerjaan tersebut masih bisa saja ditinggalkan dan tidak berdampak fatal, maka dosa jika membatalkan puasa. Apabila setelah meninggalkan pekerjaan tersebut dampak buruknya masih terasa, maka ia boleh membatalkan puasanya karena uzur. Kebanyakan ahli fikih menetapkan kewajiban sahur dan berniat puasa di malam hari bagi para petani, pandai besi, pembuat roti, pekerja tambang, dan para lainnya. Jika memang di tengah pekerjaan dia merasakan sangat haus dan lapar, kemudian dia khawatir hal ini berdampak buruk bagi dirinya, boleh baginya membatalkan puasa kemudian nanti mengganti puasanya di lain hari. Bahkan, jika dampak buruk ini benar-benar sangat terasa dan memprihatinkan, wajib baginya membatalkan puasa.” (Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, juz 2, hlm 648).

















