Kisah Diterimanya Taubat Nabi Adam pada 10 Muharram
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Bulan Muharram bukan sekadar penanda awal tahun dalam kalender Hijriah. Lebih dari itu, bulan ini menyimpan banyak peristiwa sejarah bernilai spiritual yang menjadi pelajaran penting bagi umat Islam. Salah satu peristiwa yang dikenang dalam Muharram adalah diterimanya taubat Nabi Adam AS oleh Allah SWT pada tanggal 10 Muharram, atau yang dikenal dengan hari Asyura.
Dilansir dari NU Online, Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Lathaiful Ma’arif menjelaskan keistimewaan hari Asyura sebagai hari di mana taubat Nabi Adam diterima oleh Allah SWT.
صحَّ مِنْ حَدِيث أبي إسحاق عن الأسْوَد بن يَزيد أَنَّهُ قال: “سَألْتُ عُبَيد بن عُمَير عَنْ صِيَام يَوْمَ عَاشُورَاء؟ فقال: الْمُحَرَّم شَهْرُ الله الْأصَمّ فِيْهِ تيب عَلَى آدم عليه السلام فَإنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا يَمُرَّ بِك إلّا صُمْته فَافْعَلْ
Artinya, “Ibnu Rajab telah mensahihkan sebuah hadis dari Abu Ishaq dari al-Aswad bin Yazid bahwasanya ia berkata: Aku bertanya kepada Ubaid bin Umair perihal puasa di hari Asyura. Ia menjawab: Muharram adalah bulan Allah yang penting (al-ashamm). Di dalamnya Nabi Adam diterima tobatnya. Bila kamu mampu untuk tidak melewatinya tanpa puasa, maka puasalah.”
Lebih jauh, kisah taubat Nabi Adam bermula dari peristiwa pelanggaran perintah Allah SWT di surga. Saat itu, Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan, tetapi Iblis menolak karena kesombongannya. Akibatnya, Iblis diusir dari surga dan menyimpan dendam terhadap Adam.
Dendam itu kemudian diwujudkan melalui tipu daya agar Adam dan Hawa melanggar larangan Allah dengan memakan buah Khuldi. Iblis mengiming-imingi mereka bahwa dengan memakan buah itu, mereka akan kekal di surga atau menjadi malaikat. Ia bahkan bersumpah atas nama Allah untuk meyakinkan keduanya.

















