Belajar Makna Kematian dari Kisah Pertemuan Nabi Idris dan Nabi Muhammad
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Kisah pertemuan Nabi Agung, Muhammad SAW dengan Nabi Idris AS terangkum dalam Kitab Qishshatul Mi'raj
karya asli Syekh Najmuddin al-Ghaithi, yang kemudian diberi penjelasan atau syarah oleh Sayyid Ahmad al-Dardiri. Di kalangan pesantren, kitab ini kemudian dikenal sebagai Kitab Dardir Qishatul Mi'raj.
Salah satu pembahasan yang menjadi perhatian yakni kisah pertemuan Nabi Muhammad SAW dan Nabi Idris AS.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW bertemu Nabi Idris AS di langit keempat. Nabi Idris mendapat kemuliaan khusus dari Allah SWT, termasuk diangkat ke tempat yang tinggi dan memperoleh keistimewaan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya.
Salah satu keistimewaan tersebut adalah pengalaman merasakan surga ketika masih hidup di dunia. Namun, sebelum memasuki surga, Nabi Idris terlebih dahulu memohon kepada Allah SWT agar diperkenankan merasakan kematian.
Dalam riwayat yang dikutip dari artikel keislaman yang ditulis Kiai Nahdlatul Ulama, Ulil Hadrawi, Minggu (2/8/2026), disebutkan:
فلما رفعه باذن الله تعالى سأل ربه دخول الجنة فقيل له لايدخلها الا من ذاق الموت فسأل ربه الموت...
Artinya, “Ketika Idris diangkat oleh Allah, ia meminta agar dimasukkan ke dalam surga. Namun, ia tidak diperbolehkan masuk kecuali setelah merasakan kematian. Karena itu, Nabi Idris AS memohon kepada Allah SWT agar diwafatkan.”
Kisah tersebut menunjukkan bahwa kematian merupakan ketentuan yang harus dilalui manusia sebelum memasuki kehidupan akhirat.
Meski tidak terdapat penjelasan rinci mengenai percakapan antara Rasulullah SAW dan Nabi Idris AS dalam pertemuan tersebut, peristiwa itu dinilai mengandung pelajaran penting mengenai hakikat kematian.


















