Ramadhan dan Toleransi sebagai Jembatan Keharmonisan
Kiki Yuli Rosita
TOLERAN dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.
Sedangkan toleransi yaitu sifat atau sikap toleran; batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Sikap toleransi tidak hanya pada konteks keagamaan namun, juga saat kita berpuasa.
Rasulullah SAW adalah manusia paling pemaaf dan juga lemah lembut sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Ali-Imron:159. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kasih sayangnya terhadap musuhnya sekalipun dan seluruh lapisan masyarakat lainnya.
Di dalam memaknai toleransi, terdapat 2 penafsiran. Pertama, penafsiran yang bersifat negatif yang menyatakan bahwa toleransi itu cukup mensyaratkan adanya sikap membiarkan dan tidak menyakiti orang atau kelompok lain baik yang berbeda maupun yang sama.
Sedangkan yang kedua adalah yang bersifat positif yaitu menyatakan bahwa harus adanya bantuan dan dukungan terhadap keberadaan orang lain atau kelompok lain.
Islam sebagai agama yang toleran mengajarkan kita mengenai cara menghargai orang lain tanpa saling menjatuhkan satu sama lain. Setiap manusia memiliki hak dan kewajiban masing-masing dalam konsep beragama seperti yang dijelaskan dalam Q.S Al-Kafirun ayat 1-6:
قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ(١) لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ(٦) وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ(٣) وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ(٤) وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ(٥) لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ(٦
Artinya: Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku". (surat Al- Kafirun ayat 1-6).

















