JAKARTA, (ERAKINI) - Kota Kediri di Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang memiliki karakteristik bersejarah dalam hal penyebaran agama Islam di Nusantara. Jejak syiar Islam di Kota Kediri tak bisa dipisahkan dari sosok Syekh Wasil Syamsudin alias Mbah Wasil atau Pangeran Makkah. Syekh Wasil merupakan sosok perintis penyebar agama di .
Dalam sejumlah sumber disebutkan bahwa Mbah Wasil memiliki nama lengkap Syekh Syamsuddin Al-wasil atau Sulaiman Wasil Syamsuddin, ulama asal Persia yang berdakwah di Kediri dan hidup pada abad ke-12, yaitu pada masa Kerajaan Kediri.
Meski dikenal penyebar Islam pertama di Kota Kediri, tak ada catatan pasti dari mana asal-usul Syekh Wasil. Namun berdasarkan buku Atlas Wali Songo yang ditulis Agus Sunyoto disebutkan bahwa, Syekh Wasil datang ke Kediri untuk berdakwah atas permintaan Raja Kediri Jayabaya yang memerintah dari tahun 1135 hingga 1159.
Syekh Wasil didatangkan untuk membahas kitab Musyarar, yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal). Masyarakat setempat di Kediri menyebut Syekh Wasil sebagai Mbah Wasil yang diyakini merupakan guru spiritual Prabu Jayabaya yang kemudian melahirkan ramalan-ramalannya mahsyur itu.
Mbah Wasil diperkirakan menyebarkan Islam sejak abad ke-10 Masehi atau jauh sebelum era Wali Songo. Sebelum masa Walisongo, ketika Islam pertama kali mengakar di Jawa, Syekh Wasil dikabarkan telah datang.
Sejarah tentang Syekh Wasil sendiri masih simpangsiur. Sejauh ini, belum ada catatan sejarah yang ditemukan secara utuh, tentang sejarah perjalanan hidup Syekh Wasil.
Tetapi para sejarawan meyakini bahwa Syekh Wasil merupakan tokoh penyebaran Islam yang terkenal di Jawa Timur, khususnya di Kediri pada zamannya, sekitar abad 12 M. Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Prof Dr Habib Mustopho yang melakukan penelitian tentang syech Wasil dengan basis data historis dan arkeologis menyakini, bahwa Syekh Wasil adalah ulama atau imam besar pada sekitar abad ke-12 M.
Dalam penelitiannya, Mustopho menyimpulkan peran dan kontribusi sosok Syekh Wasil menyebarkan Islam di Kediri berdasarkan prasasti berhuruf Jawa Kuno atau epigraf, yang terdapat di makam Syekh Wasil.
Sayang sekali, bagian terakhir dari kalimat prasasti itu sudah terhapus oleh ulah tangan-tangan jahil. Akibatnya, kalimat pada sekian baris terakhir yang di antaranya menyebut tanggal dan tahun kematian Syekh Wasil, tidak bisa terbaca dengan baik. Padahal, prasasti itu sangat dibutuhkan.
Syekh Wasil menyebarkan agama Islam di Kediri dengan metode dakwah menyampaikan wasil (tutur kata dan petuah yang baik). Karena hal itulah masyarakat kemudian menjuluki namanya dengan Syekh Wasil.
Berkat metode dakwah tersebut, banyak masyarakat Kota Kediri yang akhirnya memeluk agama Islam. Agama Islam akhirnya diterima dan berkembang pesat di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Kretek itu. Sejumlah masjid pun dibangun. Salah satunya Masjid Setono Gedong.
Bahkan, beberapa masyarakat setempat percaya bahwa Kitab Jongko Joyoboyo yang berisi tentang ramalan Raja Joyoboyo untuk pulau Jawa merupakan hasil dari kedekatan Syekh Wasil dengan Raja Jayabaya.
Selain berdakwah, Mbah Wasil diduga juga terlibat dalam proses penyatuan Kerajaan Jenggala dan Panjalu pada 1135 Masehi. Pada peristiwa itu Jayabaya dibantu oleh adik Mbah Wasil bernama Ali Akbar Sagalor. Dia bertindak sebagai panglima perang yang tercatat di Prasasti Hantang dengan semboyan Panjalu Djayati yang artinya Kediri Menang.
Bagi masyarakat Kediri, keyakinan akan keberadaan Mbah Wasil di makam Setono Gedong juga dikuatkan oleh para ulama di Kediri. Di antaranya, Kiai Machfud Ali, Kiai Mundzir, Gus Miek, dan Kiai Hamid Pasuruan.
Beberapa sejarawan menyebut Mbah Wasil sebagai guru spritual Sri Aji Jayabaya. Pendapat ini menjelaskan mengapa makam Mbah Wasil berada di kompleks makam Setono Gedong, dan dihormati oleh masyarakat Kediri kala itu. Jejak purbakala ini berupa reruntuhan candi di area makam, yang telah ditetapkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan sebagai cagar budaya.
Mbah Wasil meninggal dan dimakamkan di kawasan Setono Gedong, Jalan Doho, Kota Kediri. Makamnya tak pernah sepi dari peziarah. Terlebih saat bulan Ramadan saat ini.
Hingga kini makam Mbah Wasil masih menjadi tujuan masyarakat untuk berziarah. Ini pula yang membuat geliat perekonomian warga sekitar tumbuh, selain keberadaan lokasi makam yang berada di pusat perdagangan Kota Kediri.
Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, makam Mbah Wasil semula berada di tempat terbuka. Untuk menghormati jasa-jasanya, dibangunlah makamnya oleh seorang Bupati Suryo Adilogo (menurut sumber historiografi adalah mertua Sunan Drajat putra Sunan Ampel) hidup di abad ke-16.
Hingga khir hayatnya, Syekh Wasil tidak hanya dikenang sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai simbol persatuan antara budaya Islam dan lokal di Kediri. Warisannya terus hidup dalam tradisi ziarah dan penghormatan masyarakat terhadap ajaran serta nilai-nilai yang beliau tanamkan.