JAKARTA, (ERAKINI) - Sosok ulama yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional saat ini mungkin sudah biasa karena tercatat ada sejumlah nama. Tapi sosok ulama yang mendapat dua gelar pahlawan dari dua negara berbeda, mungkin hanya ada pada diri ulama legendaris Syekh Yusuf Al-Makassari. Siapa dan apa saja kiprahnya sebagai tokoh ulama besar Indonesia?
Syekh Yusuf Al-Makassari adalah seorang ulama dan Pahlawan Nasional Indonesia yang pernah berjuang menentang penjajahan Belanda. Karena sikap intolerannya terhadap penjajahan Belanda, Syekh Yusuf Al-Makassari pernah diasingkan ke Sri Lanka dan Afrika Selatan atau salah satu negara di Benua Afrika. Di pengasingannya, ia tetap bertahan sebagai seorang pedakwah Islam hingga menjadi sosok berpengaruh di .
Syekh Muhammad Yusuf Al-Makassari tidak hanya berjasa bagi Indonesia, tetapi diakui berperan besar dalam perkembangan Islam di Afrika Selatan. Pada 1995, Syekh Yusuf Al-Makassari dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto. Hebatnya lagi, Syekh Muhammad Yusuf Al-Makassari juga mendapat gelar pahlawan dari Afrika Selatan pada 2009.
Peran Syekh Yusuf Al-Makassari dalam menyebarkan Islam di Afrika Selatan dilakukan selama enam tahun, hingga akhir hayatnya. Syekh Yusuf meninggal di Cape Town pada 1699, di usia 72 tahun. Atas permintaan Sultan Abdul Jalil, jenazah Syekh Yusuf akhirnya dimakamkan di Lakiung, Makassar, pada 1705.
Menukil buku karya Mustafa Mustari (2011) berjudul “Agama dan Bayang-bayang Etis Syeikh Yusuf Al-Makassari” Syekh Yusuf Al-Makassari atau Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani lahir pada 3 Juli 1626 di Gowa, Sulawesi Selatan.
Ia merupakan putra dari Abdullah, yang diriwayatkan sebagai seorang ulama suci dan memiliki karomah, dan Aminah, putri dari Gallarang Moncongloe. Konon, saat kelahirannya, cahaya sangat terang menyinari langit daerah Gowa, yang diyakini sebagai pertanda alam menyambut kelahiran seorang ulama besar.
Ketika usianya baru 40 hari, orang tuanya bercerai. Setelah itu, Aminah dipersunting oleh Raja Gowa dan membawa Syekh Yusuf hidup di istana. Di istana, Syekh Yusuf mendapatkan pendidikan Islam dan mampu menghafalkan seluruh isi Al Quran saat usianya masih kecil. Ia belajar dengan dibimbing langsung oleh seorang guru bernama Daeng ri Tasammang.
Selain belajar Al Quran, Syekh Yusuf Al-Makassari mempelajari ilmu nahwu sharaf, mantik, dan beberapa kitab kepada Syekh Ba' Alwi bin Abdullah al-Allamah Tahir dari Bontoala. Dalam waktu cukup singkat, ia mampu menguasai kitab-kitab tauhid dan fikih.
Ketika remaja, Syekh Yusuf berguru kepada Syekh Jalaludin al-Aidit di Cikoang, Sulawesi Selatan, selama empat tahun. Setelah itu, karena usianya telah menginjak 19 tahun, ia memilih melanjutkan pendidikan ke luar negeri pada 1645.
Dalam perjalanannya, Syekh Yusuf singgah di Banten dan Aceh, di mana ia berguru kepada Syekh Nuruddin Hasanji bin Muhammad Hamid al-Quraisyi Raniri hingga menerima ijazah tarekat Qadiriyah. Dari Aceh, Syekh Yusuf beranjak ke Timur Tengah, tepatnya di Yaman, di mana ia belajar kepada Sayyid Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi hingga mendapat ijazah tarekat Naqsyabandi.
Setelah itu, ia belajar ke beberapa guru di Madinah dan Damaskus, hingga menerima ijazah tarekat al-Ba'laqiyyah, tarekat Syattariyah, dan tarekat Khalawatiyah.
Setelah 20 tahun mengembara untuk menuntut ilmu, Syekh Yusuf Al-Makassari kembali ke Gowa pada 1665. Di Gowa, ia menjadi guru besar, tetapi kecewa dengan kondisi syariat Islam yang mulai ditinggalkan.
Syekh Yusuf lantas meninggalkan Gowa menuju Banten dan didaulat sebagai ulama tasawuf dan tarekat oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Ia mendapatkan mandat untuk mendidik anak-anak penguasa Banten di bidang keislaman. Syekh Yusuf juga berperan sebagai penasihat kerajaan dan menulis beberapa kitab terkait tasawuf.
Melihat kondisi Indonesia dijajah Belanda, Syekh Yusuf tidak tinggal diam dan berperan dalam perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan itu kandas, karena ia ditangkap oleh Belanda pada 1683 di daerah Sukapura, Banten dan kemudian dipenjara.
Penangkapan Syekh Yusuf dikarenakan ia memimpin gerilya yang terdiri dari kebanyakan orang Makassar di Banten setelah melihat VOC turut campur atas nama muridnya, Sultan Haji.
Sebab, Syekh Yusuf sendiri lebih memihak kepada ayah muridnya itu, yakni Sultan Ageng Tirtayasa. Ia dan pasukannya tertawan setelah terus dikejar pasukan Belanda di daerah pegunungan di Jawa Barat. (Bruinessen, 2015).
Setelah sempat dipenjara di Cirebon dan Batavia, Syekh Yusuf Al-Makassari diasingkan ke Sri Lanka, sebuah negara Asia Selatan yang berdekatan dengan India. Kendati demikian, ia tetap berjuang menyebarkan agama Islam dan berhasil menulis kitab berjudul Kafiyyat al-Tasawwuf.
Diceritakan Azyumardi Azra dalam bukunya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII” (2018), setelah sekitar 9 tahun di Sri Lanka, Syekh Yusuf bersama 49 pengikutnya tiba di Tanjung Harapan, Afrika Selatan pada tahun 1694, tepatnya pada tanggal 2 April.
Syekh Yusuf bersama rombongannya itu kemudian dibawa oleh penguasa Belanda ke Zandvliet, sebuah desa pertanian di mulut Sungai Eerste. Wilayah itu kini juga dikenal sebagai Macassar. Keberadaannya sebagai tokoh dengan segala keilmuan dan haibahnya sebagai ulama, sosoknya tak bisa redup. Ia menjadi titik sentral bagi banyak orang Nusantara yang berada di sana.
Pengasingan Syekh Yusuf di Afrika Selatan dilakukan karena sosoknya masih membawa pengaruh besar bagi perjuangan masyarakat Indonesia meskipun keberadaannya di Sri Lanka.
Pasalnya, sejumlah jamaah haji dan Muslim pedagang singgah ke negeri tersebut dan menemuinya. Kemudian, mereka membawa pulang sejumlah karya dari ulama kelahiran Makassar, 8 Syawal 1036 H atau bertepatan 3 Juli 1626 M itu. Ada pula karya-karya ulama Nusantara yang dibawa ke tanah tersebut, seperti karyanya Syekh Nuruddin al-Raniri dan Syekh Abdur Rauf al-Sinkili.
Tak pelak, pengasingannya di Sri Lanka itu tidak membuatnya putus kontak dengan jejaringnya. Bahkan, ia juga berhubungan dengan beberapa ulama India, seperti Sidi Matilaya, Abu al-Ma’ani Ibrahim Minhan, dan Abd al-Shiddiq bin Muhammad Shadiq. Karenanya, Belanda mengambil sikap untuk kembali menjauhkan sosok ulama penting itu ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Harapannya, Syekh Yusuf tidak dapat lagi berkontak dengan jejaringnya di tanah jajahan Belanda, Nusantara.
Wafat
Syekh Yusuf Al-Makassari wafat di Afrika Selatan pada 22 Mei 1699 M atau bertepatan dengan 22 Dzulqa’dah 1111 H. Namanya harum mewangi di Afrika Selatan Kuburnya ramai diziarahi oleh masyarakat Muslim. Bahkan, komunitas Muslim di Afrika Selatan rutin menggelar Kramat Festival sebagai wahana untuk mengenang sosok ulama yang amat dihormati oleh mereka.