JAKARTA, (ERAKINI) - Syekh Mahmud Al Jawab Al Madani, yang dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka di Nusantara, khususnya di Sumatera Timur. Is memiliki perjalanan hidup dan kontribusi yang sangat signifikan dalam pengembangan Islam di wilayah tersebut. Dia juga merupakan sosok yang dihormati dan diakui sebagai seorang wali, dengan banyak pengikut karena ajaran dan karomahnya.
Dalam berbagai sumber terpercaya disebutkan, Syekh Mahmud Al Jawab Al Madani dilahirkan di Madinah dari keluarga Quraisyi pada tahun 1130 H/1718 M. Kelahirannya ini pula bertepatan dengan wafatnya seorang waliyullah yang lain yaitu Habib Abdullah Al-Haddad, penyusun Ratib Al-Haddad. As-Samman tinggal di dalam rumah bersejarah milik khalifah Sayidina Abu Bakar Siddiq. Sejak kecil ia telah memperlihatkan tanda-tanda keistimewaan dan keganjilan dibandingkan teman-temannya.
Syekh Mahmud Al Jawab Al Madani termasuk Ahlul Bait atau keturunan Nabi Muhammad SAW. Ia memiliki silsilah yang menghubungkannya dengan Sayyidina Hasan bin Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah az-Zahra. Keluarga ini memberikan landasan spiritual yang kuat dalam kehidupannya sebagai seorang ulama.
Dengan silsilah yang istimewa tersebut, Syekh Mahmud dikenal memiliki akhlak yang mulia, gemar beribadah, menyayangi fakir miskin, serta sangat menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya. Selain itu dirinya juga menyukai orang alim dan shalih, senantiasa menjauhi perbuatan tercela dan lain sebagainya. Usia 8 tahun Syekh Muhammad Samman telah hafal kitab suci Al-Quran.
Syekh Mahmud menghabiskan banyak waktu untuk menuntut ilmu di berbagai tempat, termasuk di Makkah dan Madinah. Di dua kota suci bagi Umat Islam itu, Syekh Mahmud belajar dari para ulama besar dan menguasai berbagai disiplin ilmu agama, termasuk fiqih, tasawuf, dan hadits. Ia dikenal sebagai seorang yang mendalami mazhab Syafi'i dalam fiqih dan mengikuti paham Asy'ari dalam akidah.
Setelah merampungkan pendidikannya, Syekh Mahmud kembali ke Nusantara yakni di wilayah Sumatera Timur dan mulai menyebarkan ajarannya. Ia mendirikan pesantren-pesantren yang menjadi pusat pendidikan Islam. Melalui pesantren binaannya, Syekh Mahmud tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga menanamkan nilai-nilai moderasi dalam beragama. Pendekatan dakwahnya yang ramah dan inklusif menarik banyak murid dari berbagai latar belakang.
Berdasarkan literatur yang beredar, syiar agama Islam Syekh Mahmud Al Jawab Al Madani di wilayah Sumatera Timur tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kota Barus di Sumatera Timur.
Barus merupakan kota tua yang terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara yang menjadi pintu gerbang masuknya Islam di Indonesia. Jika penyebaran Islam di Tanah Jawa dilakukan oleh Walisongo pada abad ke-14 Masehi, maka Islam di Barus telah ada sejak awal abad ke-7.
Syekh Mahmud diperkirakan hidup pada abad ke-7 M. Kala itu, Barus yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia menjadi pusat persinggahan pelayaran internasional. Barus dikenal dunia sebagai daerah pengahasil kapur. Para saudagar dari Arab, Yaman, Yordan, Hindia, dan Persia banyak melaksanakan bisnis rempah-rempah dan kapur barus di daerah tersebut.
Barus juga menjadi tempat pertama yang diinjaki para ulama utusan khalifah untuk menyebarkan ajaran Islam. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika di Barus terdapat makam-makam Islam. Selain makam Syiekh Mahmud, di Makam Papan Tinggi, di atas bukit daerah Barus tepatnya desa Dakka ditemukan 200 makam lebih
Syekh Mahmud Al Jawab Al Madani diakui sebagai seorang wali dengan pangkat kewalian yang tinggi, yaitu Qutb al-Akwan. Pangkat kewalian Syekh Samman Al-Madani mencapai al-quthub yaitu tingkatan tertinggi wali Allah alias presiden wali di masanya. Syekh Mahmud adalah seorang al-ghauts al-zaman yaitu pamungkas para wali di zamannya.
Dalam tradisi tasawuf, gelar ini menunjukkan kedudukan spiritual sangat tinggi. Syekh Mahmud diyakini juga seorang wali quthub akwan, yakni kewalian yang bisa dicapai dalam tiap periode 200 tahun sekali, bahkan dirinya disebut sebagai khalifah Rasulullah pada zamannya.
Ia dikenal memiliki banyak karomah atau keajaiban, seperti kemampuan memberi syafaat kepada umatnya. Konon, ia dapat memberikan syafaat kepada 70.000 orang untuk masuk surga tanpa hisab.
Keagungan dan kemuliaan lain drai Syekh Mahmud yang jumlahnya diyakini sangat banyak di antaranya yakni semua murid Syekh Mahmud yang jumlahnya ribuan dipercaya akan menempati makam qutb. Syekh Mahmud menempati kemuliaan karena dirinya berada pada jalan Rasulullah Saw dan para sahabatnya, yakni ahlussunnah wal jamaah.
Syekh Mahmud tidak hanya berperan sebagai pengajar tetapi juga sebagai pembimbing spiritual bagi murid-muridnya. Banyak dari mereka yang kemudian menjadi ulama terkemuka di Indonesia, melanjutkan warisan ilmunya.
Murid-murid Syekh Mahmud dari Indonesia yang terkenal antara lain Qutb Zaman Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Qutb Maktum Syekh Abul Abbas Ahmad at-Tijani (pendiri tarekat Tijani), al-Qutb Syekh Abdussamad al-Palimbani, al-Qutb Syekh Abdul Wahab Bugis (menantu Syekh Arsyad al-Banjari), al-Qutb Syekh Abdurrahman al-Batawi (kakek Mufti betawi dari pihak ibu Habib Utsman betawi), al-Qutb Syekh Dawud al-Fathani, dan lain-lain.
Hingga saat ini, ajaran Syekh Mahmud Al Jawab Al Madani masih hidup dalam tradisi pesantren di Indonesia. Banyak nilai-nilai moderasi dan toleransi dalam beragama yang diajarkannya terus dipraktikkan oleh generasi baru ulama dan santri. Ia dikenang bukan hanya sebagai seorang ulama tetapi juga sebagai tokoh penting dalam sejarah Islam di Nusantara.