JAKARTA, (ERAKINI) - Bulan Ramadan 1366 Hijriah atau 1947 menjadi salah satu periode paling duka dalam sejarah bangsa Indonesia. Di tengah suasana perang mempertahankan kemerdekaan, pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy’ari, wafat pada 7 Ramadan 1366 H atau 25 Juli 1947.
Abdullah Alawi mengutip KH Saifudin Zuhri dalam Buku berjudul Guruku Orang-Orang dari Pesantren (2001) menyebut, saat itu, umat Islam Indonesia memang telah menghirup udara kemerdekaan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
Namun, situasi keamanan belum sepenuhnya pulih. Belanda melancarkan Agresi MiliterBelanda I pada 21 Juli 1947, hanya dua hari setelah memasuki bulan Ramadan.
Beberapa hari setelah agresi dimulai, dua utusan Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Bung Tomo datang ke kediaman KH Hasyim Asy’ari di Jombang, Jawa Timur. Salah satu utusan tersebut adalah Kiai Gufron, pemimpin Sabilillah Surabaya.
Mereka menyampaikan kabar terbaru mengenai situasi medan pertempuran. Jenderal Spoor disebut telah merebut Singosari dan Malang. Keduanya merupakan wilayah yang menjadi pusat perjuangan dan markas penting laskar Sabilillah yang dipimpin KH Masykur. Kabar tersebut membuat Rais Akbar Nahdlatul Ulama itu sangat terpukul.
“Masya Allah, masya Allah!” serunya sembari memegang kepalanya kuat-kuat.
Keterkejutan hebat itu membuatnya pingsan. Tak lama kemudian, ia mengalami pendarahan otak.
Dokter yang didatangkan dari Jombang tak mampu menyelamatkannya karena kondisinya sudah sangat parah. Pada hari itu juga, 7 Ramadan 1366 H, KH Hasyim Asy’ari wafat dalam usia 76 tahun.
Jenazahnya dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan dan pengembangan pendidikan Islam, Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada kakek Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut.
Penganugerahan gelar pahlawan dilakukan pemerintah pada 17 November 1964 yang ditandatangani Presiden RI ke-1, Ir Soekrno.
Lebih lanjut, dalam penelitian cucunya, KH Ishom Hadzik, almrhum KH Hasyim Asy’ari meninggalkan sejumlah karya tulis penting di bidang akidah, pendidikan, dan keislaman.
Beberapa di antaranya adalah Adab al ‘Alim wa al Muta’allim, Risalah Ahl al Sunnah wa al Jama’ah, Al-Nur al Mubin fi Mahabbati Sayyid al Mursalin, Arba’in Haditsan, hingga Tamyizul Haqq min al Bathil.
Karya-karya tersebut hingga kini masih menjadi rujukan penting di lingkungan pesantren dan kalangan Nahdlatul Ulama.
Tak hanya karya tulis, KH Hasyim Asy'ari juga meninggalkan Pondok Pesantren Tebu Ireng yang kini telah menjadi mercusuar pendidikan Islam di Indonesia.
Sebelum menjadi kiblat pesantren seluruh Indonesia dengan ribuan santri, jumlah santri KH Hasyim Asy’ari pada 1899 awalnya hanya 28 orang.
Jumlah itu meningkat menjadi sekitar 200 santri pada 1910. Sepuluh tahun kemudian, angkanya melonjak menjadi sekitar 2.000 orang.
Bahkan, mengutip pendapat Jepang pada 1942, murid KH Hasyim Asy’ari diperkirakan mencapai 25.000 orang.
Bahkan menurut tokoh Nahdlatul Ulama, KH Saifuddin Zuhri, dalam bukunya Guruku Orang-orang dari Pesantren menyebut bahwa pada 1939-1940, Pesantren Tebuireng berada dalam masa keemasan.
“Tebuireng menjadi mercusuar pondok-pondok pesantren di seluruh Indonesia. Tebuireng menjadi trade mark dan identitas kaum santri,” tulisnya.
Wafatnya KH Hasyim Asy’ari di bulan Ramadan, di tengah situasi perang mempertahankan kemerdekaan, menjadi simbol betapa eratnya perjuangan ulama dan santri dalam sejarah bangsa Indonesia.