Ilustrasi Umar bin Abdul Aziz (Foto: UIN Alauddin Makassar)
JAKARTA, (ERAKINI) - Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai salah satu khalifah paling adil dan sederhana dalam catatan sejarah Islam. Pemimpin Dinasti Umayyah ini wafat pada tahun 101 Hijriah, tepatnya di bulan Rabiul Akhir. Sosoknya kerap disebut sebagai teladan kepemimpinan yang mengutamakan kesederhanaan dan keadilan.
Mengutip Jurnal berjudul Kepemimpinan Profetik Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz
karya Moh Hasyim Rosyid, Rabu (17/9/2025), Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada tahun 99 H (716 M). Cicit dari sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab, ini dihormati luas karena kealiman dan integritasnya.
Garis keturunan itu mengalir dari ibunya, ‘Ashim binti ‘Ashim bin Umar bin Khattab, sedangkan ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan, adalah seorang gubernur dari Klan Umayyah. Umar lahir di Hulwan, Mesir, sekitar tahun 61 H (681 M).
Meskipun dibesarkan di lingkungan istana yang penuh kemewahan, kedua orang tuanya membekalinya dengan pendidikan agama yang kuat. Sejak kecil, ia berguru kepada ulama besar di Madinah, termasuk Ubaidillah bin Abdullah.
Sebelum memimpin kekhalifahan, Umar sempat menjabat sebagai gubernur Madinah pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Ketika Sulaiman bin Abdul Malik, khalifah setelah Al-Walid, jatuh sakit, ia mewasiatkan kekhalifahan kepada Umar bin Abdul Aziz.
Pada tahun 99 H (716 M), Umar resmi dilantik sebagai khalifah. Salah satu langkah pertamanya adalah meninggalkan kemewahan istana. Ia menjual pakaian kebesaran khalifah dan memasukkan hasil penjualannya ke Baitul Mal. Umar juga memerintahkan agar rakyat yang pernah dizalimi melapor untuk mendapatkan keadilan. Kebijakan ini segera menumbuhkan simpati luas dari masyarakat.
Kepemimpinan Adil dan Sederhana
Jurnal itu juga menuliskan bahwa Umar bin Abdul Aziz dikenal menolak feodalisme dan menghidupkan kembali prinsip pemerintahan yang diterapkan Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin. Dalam setiap kebijakan, ia menekankan musyawarah serta menolak diskriminasi berdasarkan status sosial.
Keadilan yang ditegakkannya memberi rasa aman, mengurangi kemiskinan, dan memulihkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintahan Bani Umayyah. Kesederhanaannya bahkan membuat sebagian sejarawan menyebutnya sebagai “khalifah kelima” setelah empat Khulafaur Rasyidin.
Perhatian pada Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan
Lebih lanjut, para penulis dalam jurnal tersebut mencatat bahwa tak hanya di bidang sosial dan pemerintahan, Umar bin Abdul Aziz memberi perhatian besar pada pendidikan. Ia mendirikan sekolah-sekolah, memberi kebebasan ulama untuk mengajar, dan memprakarsai pengkodifikasian hadis secara resmi untuk pertama kalinya.
Di masanya, pendidikan berkembang pesat di berbagai wilayah seperti Kufah, Mekah, Madinah, Mesir, hingga Cordova. Kurikulum yang diajarkan tidak hanya mencakup agama, tetapi juga sejarah, filsafat, geografi, astronomi, matematika, dan kedokteran.
Warisan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz menjadi rujukan penting dalam sejarah Islam. Sikap adil, sederhana, dan visionernya terus dikenang sebagai teladan bagi pemimpin sepanjang masa.