Cara Pandang Gus Baha terhadap Tidurnya Orang yang Berpuasa
Kiki Yuli Rosita
PUASA dalam bahasa Arab disebut al-Shaum yang memiliki arti menahan (imsak). Termasuk pengertian ini ialah menahan bicara dengan orang lain, seperti disebutkan dalam Q.S Maryam ayat 26:
“Makan, minum, dan bersukacitalah engkau. Jika engkau melihat seseorang, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.’”
Dalam sebuah tafsir Tahlili disebutkan: Maka Jibril menyuruh Maryam supaya makan, minum dan bersenang hati karena mendapat rezeki itu dan menghilangkan kesedihan hatinya karena Allah berkuasa untuk membersihkannya dari segala tuduhan yang tidak pantas, sehingga Maryam tetap dianggap sebagai wanita yang suci tidak pernah ternoda.
Jika kamu melihat seorang manusia yang bertanya tentang persoalannya dan persoalan anaknya, maka isyaratkanlah kepadanya, "Sesungguhnya aku telah bernazar atas diriku untuk berpuasa semata-mata untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, dan aku tidak akan berbicara langsung dengan seorang manusia pun pada hari ini, karena ucapanku itu mungkin ditolak dan tidak dipercayai.”
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha dalam sebuah ceramahnya berpendapat bahwa orang yang tidur saat puasa merupakan orang yang menahan diri dari segala perbuatan yang dapat mengurangi pahalanya. Karena tidurnya orang puasa merupakan sebuah ibadah baginya.
Malaikat atas nama ushul fiqih berpendapat “Orang ini meninggalkan maksiat, kalau ia terjaga mungkin melihat hal-hal yang berdosa atau ngegosip”. Barokahnya orang tidur ialah dia meninggalkan itu semua. Pada akhirnya dulu yang kita melihat orang tidur sebagai hal biasa.
Gus baha juga berpendapat bahwa literatur orang terdahulu merupakan sebuah barokah sebagaimana sebuah ayat Q.S Ar-Rum ayat 23:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ مَنَامُكُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱبْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ


















