Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Tengah Kehidupan Masyarakat Betawi
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Masyarakat Betawi dikenal sebagai kelompok etnis asli Jakarta yang terbentuk dari asimilasi berbagai etnis sejak abad ke-17 di Batavia. Kekayaan budaya mereka tercermin dalam bahasa, kesenian seperti lenong dan gambang kromong, hingga kuliner khas seperti kerak telor. Tidak hanya itu, masyarakat Betawi juga memiliki tradisi keagamaan yang terpelihara, salah satunya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Seperti halnya di berbagai daerah di Nusantara yang memiliki bentuk perayaan berbeda, warga Betawi pun merayakan Maulid dengan cara khas. Di Madura, tradisi ini dikenal dengan Muludhen, di Minang dengan Bungo Lado, di Kudus dengan Kirab Ampyang, sementara di sejumlah daerah lain disebut Grebeg Maulud.
Bagi masyarakat Betawi, Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momen penting untuk mengekspresikan kebahagiaan atas kelahiran Rasulullah SAW. Perayaan itu biasanya ditandai dengan pembacaan Barzanji, ceramah agama, hingga berbagai perlombaan seperti membaca Al-Qur’an, adzan, dan shalawat.
Tradisi di Kebagusan, Jakarta Selatan
Salah satu wilayah yang konsisten menyelenggarakan Maulid Nabi adalah Kebagusan, Jakarta Selatan. Penelitian Ahmad Auliya dalam skripsi berjudul Tradisi Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Komunitas Etnis Betawi Kebagusan (2008), seperti dikutip Kamis (28/8/2025), mencatat bahwa perayaan ini tidak hanya bermakna keagamaan, tetapi juga sosial dan kultural.


















