Militer Lebanon mengatakan pada hari Sabtu (30/5/2026) bahwa serangan Israel yang "ditargetkan" melukai dua tentara di Lebanon selatan, sehari setelah delegasi militer dari kedua negara bertemu di Washington. (Foto: AFP).
BEIRUT, (ERAKINI)- Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara dan tembakan artileri ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan pada Sabtu. Serangan tersebut menyasar area sekitar benteng bersejarah Beaufort, salah satu situs peninggalan era Perang Salib yang memiliki nilai strategis tinggi.
Di saat yang sama, bentrokan sengit masih berlangsung di sejumlah desa sekitar Nabatieh, memperlihatkan bahwa konflik antara Israel dan Hizbullah belum menunjukkan tanda-tanda mereda meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan beberapa waktu lalu.
Militer Israel juga mengeluarkan instruksi evakuasi bagi penduduk di lebih dari belasan desa di wilayah selatan Lebanon. Langkah itu muncul hanya sehari setelah pejabat militer Lebanon dan Israel menggelar dialog langsung yang disebut sebagai pertemuan pertama dalam beberapa dekade terakhir, yang berlangsung di Pentagon, Amerika Serikat.
Situasi keamanan yang semakin memburuk menjadi topik utama dalam pertemuan Presiden dan Perdana Menteri Lebanon. Dalam pernyataan bersama, kedua pemimpin negara itu menegaskan akan meningkatkan berbagai upaya diplomatik untuk menghentikan aksi penghancuran permukiman, bangunan bersejarah, serta peringatan evakuasi yang terus dikeluarkan Israel.
Media resmi Lebanon melaporkan bahwa serangan udara dan tembakan artileri menghantam kawasan sekitar Benteng Beaufort, sebuah lokasi yang berdiri megah di perbukitan dan mengawasi sebagian besar wilayah Lebanon selatan. Benteng tersebut pernah menjadi basis penting pasukan Israel selama hampir dua dekade sebelum akhirnya ditinggalkan pada tahun 2000.
Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Israel dilaporkan terus bergerak maju ke sejumlah desa di sekitar kawasan tersebut, termasuk Yohmor dan Zawtar Al-Sharqieh. Operasi itu dilakukan setelah pasukan melintasi Sungai Litani, wilayah yang selama ini dianggap sebagai garis batas operasional tidak resmi oleh militer Israel.
Meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah berlaku sejak pertengahan April, sebagian besar wilayah selatan Lebanon masih berada dalam pengawasan dan kendali militer Israel.
PM Lebanon: Eskalasi Israel Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengecam keras operasi militer Israel yang menurutnya telah mencapai tingkat eskalasi yang sangat berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam pidato yang disiarkan secara nasional, Salam menyerukan penghentian segera seluruh aksi militer. Ia menegaskan bahwa strategi penghancuran menyeluruh terhadap wilayah sipil tidak akan pernah menjadi jaminan keamanan bagi Israel.
Di sisi lain, Salam juga mempertahankan keputusan pemerintahnya untuk membuka jalur komunikasi langsung dengan Israel. Menurutnya, pendekatan diplomatik tetap menjadi opsi paling efektif dan paling minim risiko bagi Lebanon dalam menghadapi situasi yang terus memburuk.
Roket Hizbullah Balas Serangan, Korban Sipil Terus Berjatuhan
Konflik tidak hanya berlangsung di darat dan udara. Hizbullah mengumumkan bahwa mereka meluncurkan serangan roket ke wilayah utara Israel, termasuk ke kota Kiryat Shmona yang berada dekat perbatasan Lebanon.
Kelompok tersebut menyatakan bahwa serangan dilakukan sebagai respons atas serangan udara Israel yang menyebabkan jatuhnya korban sipil di Lebanon. Selain itu, Hizbullah juga mengklaim telah menembakkan roket ke arah kota Safed.
Sementara itu, laporan dari Lebanon menyebutkan bahwa serangan udara di Desa Ansar menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Di lokasi berbeda, serangan pesawat nirawak pada jalur penghubung antara Ebba dan Nabatieh mengakibatkan dua personel militer Lebanon mengalami luka-luka.
Salah satu peristiwa paling memilukan terjadi di desa pesisir Adloun, dekat Kota Tyre. Sebuah keluarga pengungsi asal Suriah menjadi korban serangan udara Israel yang menghancurkan tempat tinggal mereka.
Korban terdiri atas Qais Al-Bakir, istrinya yang tengah mengandung, serta enam anak mereka. Seluruh anggota keluarga tewas dalam serangan tersebut.
Menurut keterangan kerabat korban, keluarga itu berasal dari komunitas Alawite di Suriah dan telah mengungsi ke Lebanon setelah pergolakan politik yang terjadi pasca-runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada akhir 2024.
Mereka hidup sederhana dengan bekerja di sebuah peternakan domba dan disebut tidak menerima peringatan apa pun sebelum serangan terjadi. “Yang dia pikirkan setiap hari hanya bagaimana memberi makan anak-anaknya,” ujar saudara korban dengan nada pilu.
Gelombang konflik terbaru antara Israel dan Hizbullah meletus pada awal Maret setelah kelompok bersenjata Lebanon tersebut meluncurkan roket ke wilayah Israel utara, beberapa hari setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Sejak pecahnya pertempuran, dampak kemanusiaan terus membesar. Ribuan warga kehilangan nyawa, sementara lebih dari satu juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan di wilayah yang lebih aman.
Dengan serangan yang terus berlangsung dan upaya diplomasi yang belum membuahkan hasil nyata, Lebanon kini menghadapi salah satu fase paling genting dalam sejarah konflik modernnya. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa kawasan Timur Tengah dapat kembali terseret ke dalam krisis yang lebih luas dan berkepanjangan.