Sebuah laporan PBB menyebutkan bahwa 761 lokasi pengungsian yang menampung sekitar 850.000 orang berisiko tinggi terkena banjir, dan ribuan warga Palestina telah pindah sebagai antisipasi hujan lebat. (Foto: AP).
GAZA, (ERAKINI) - Hujan lebat kembali menggulung wilayah pada Kamis (11/12/2025) malam, menghancurkan ratusan yang selama dua tahun terakhir menjadi tempat berlindung keluarga-keluarga yang terusir akibat perang. Di tengah cuaca ekstrem itu, seorang bayi perempuan dilaporkan meninggal dunia karena kedinginan, menurut keterangan tenaga kesehatan setempat.
Petugas medis mengungkapkan bahwa Rahaf Abu Jazar, bayi berusia delapan bulan, tak dapat diselamatkan setelah air hujan menerobos masuk ke tenda keluarganya di kawasan Khan Younis, Gaza selatan.
Sambil memeluk jasad putrinya, sang ibu, Hejar Abu Jazar, mengenang momen terakhir sebelum tragedi terjadi. “Aku sudah menyusuinya sebelum kami tidur. Saat terbangun, tubuhnya basah kuyup oleh hujan, angin menerjang tenda, dan tiba-tiba ia pergi karena kedinginan,” ujarnya lirih kepada Reuters. “Dia tidak sakit apa pun. Ya Allah, hancur rasanya hatiku… hidupku,” tangisnya pecah.
Otoritas pertahanan sipil dan pemerintah kota berkata bahwa mereka tak memiliki kemampuan memadai untuk menangani banjir. Selain kekurangan bahan bakar, banyak alat berat rusak atau hancur akibat serangan Israel sebelumnya, termasuk buldoser serta mesin penyedot air. Perang telah membuat lebih dari dua juta penduduk mengungsi sekaligus meratakan sebagian besar wilayah Gaza.
Pertahanan sipil menerima lebih dari 2.500 panggilan darurat, sementara sejumlah barang milik pengungsi terlihat mengapung di lorong-lorong kamp yang tergenang.
PBB menyebutkan bahwa 761 lokasi pengungsian yang menampung sekitar 850.000 orang berada dalam ancaman banjir. Ribuan orang telah memindahkan tempat tinggal sementara mereka untuk menghindari hujan deras.
Para pejabat PBB dan Palestina menegaskan bahwa Gaza membutuhkan setidaknya 300.000 tenda baru untuk menampung sekitar 1,5 juta orang yang masih kehilangan rumah. Mayoritas tempat berlindung saat ini terbuat dari plastik tipis dan terpal yang sudah rapuh.
Karena tidak memiliki pilihan lain, warga Gaza memunguti batang-batang besi dari reruntuhan rumah yang dibom untuk menopang tenda mereka, atau menjualnya demi mendapatkan sedikit uang.
Meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober, kerusakan infrastruktur Gaza begitu parah hingga kebutuhan dasar tetap jauh dari tercukupi. Pemerintah de facto Gaza menyatakan Israel masih membatasi pemasukan bantuan, jauh dari jumlah yang dijanjikan dalam kesepakatan gencatan senjata. Lembaga-lembaga bantuan pun melaporkan bahwa barang-barang vital masih tertahan.
Israel membantah tuduhan tersebut dan balik menyalahkan organisasi kemanusiaan karena dianggap tidak efektif serta tak mampu mencegah penyalahgunaan bantuan, klaim yang dibantah oleh pihak Hamas. “Kami menempatkan seluruh tanggung jawab kepada pendudukan Israel atas kondisi para pengungsi yang terpapar cuaca ekstrem, karena mereka menutup perbatasan dan menahan masuknya bantuan serta material untuk tempat tinggal,” tegas Ismail Al-Thawabta, Kepala Kantor Media Pemerintah Gaza.
UNRWA memperingatkan bahwa banjir, tenda yang lembap, serta akses jalan yang terputus memperparah krisis kemanusiaan. “Lingkungan yang dingin, padat, dan tidak higienis meningkatkan risiko penyakit,” tulis mereka di platform X. “Semua penderitaan ini sebenarnya dapat dicegah jika bantuan kemanusiaan dapat masuk tanpa hambatan.”
Di Gaza City, tiga rumah roboh akibat badai hujan yang menghantam bangunan-bangunan yang sebelumnya telah rusak parah akibat bombardir.
Walaupun sebagian besar pasukan Israel sudah ditarik dari Gaza City dan arus bantuan meningkat, kekerasan belum benar-benar berhenti. Otoritas kesehatan Palestina mencatat 383 warga Gaza tewas sejak gencatan senjata dimulai akibat serangan Israel. Militer Israel menyatakan tiga tentaranya juga tewas dalam periode itu dan mereka telah menargetkan puluhan pejuang.
Pada Kamis, petugas medis melaporkan dua perempuan Palestina meninggal serta beberapa lainnya luka-luka akibat tembakan tank Israel di Jabalia, Gaza utara. Pihak Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.