Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, berpidato pada hari pertama Forum Doha ke-23, di Doha, Qatar, 6 Desember 2025. (Foto: Reuters).
DOHA, (ERAKINI) - Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, menegaskan bahwa upaya menghentikan perang panjang di masih jauh dari kata selesai. Dalam forum internasional Doha Forum, ia menyampaikan bahwa negosiasi yang dipromosikan Amerika Serikat sedang berada dalam fase sangat genting, karena situasi di lapangan belum benar-benar berubah.
Qatar, yang sejak awal memainkan peran utama sebagai mediator, menilai bahwa apa yang disebut gencatan senjata selama hampir sebulan terakhir lebih mirip jeda sementara dibanding penghentian agresi yang nyata.
“Ini bukan gencatan senjata yang sesungguhnya. Selama pasukan Israel masih bercokol di Gaza, tidak ada stabilitas, tidak ada kebebasan bergerak, dan tidak ada kehidupan yang dapat kembali pulih,” tegas PM Al-Thani.
Ia menekankan bahwa gencatan senjata hanya bisa dianggap sah bila Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah Gaza, sesuatu yang hingga kini belum dilakukan. Tanpa penarikan total, kata Al-Thani, mustahil tercipta ketenangan bagi warga Palestina yang ingin keluar masuk wilayahnya dengan aman.
Rencana Amerika Masih Tersendat, Israel Dinilai Jadi Penghambat Utama
Pembahasan mengenai tahap lanjutan dari rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang dua tahun di Gaza masih berlangsung alot. Rencana itu mencakup pembentukan pemerintahan teknokratis sementara di Gaza yang berada di bawah pengawasan dewan perdamaian internasional serta dukungan pasukan keamanan global.
Namun, kesepakatan mengenai struktur serta mandat pasukan internasional tersebut terus tersendat. Banyak pihak menilai bahwa keengganan Israel melepaskan kontrol militernya menjadi hambatan terbesar.
Pada Kamis (4/12/2025), delegasi Israel kembali melakukan pembicaraan di Kairo terkait pemulangan sandera terakhir di Gaza, tahap penting dalam rencana AS yang ingin dipercepat. Tetapi proses ini juga berjalan lambat akibat tarik ulur politik dan militer.
Sejak jeda kekerasan diberlakukan pada 10 Oktober, Hamas telah menyerahkan 20 sandera hidup dan 27 jenazah sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan. Imbalannya, sekitar 2.000 warga Palestina yang ditahan Israel dibebaskan, banyak dari mereka sebelumnya tidak pernah disidang ataupun diberi alasan penangkapan yang jelas.
Meski demikian, situasi di Gaza tidak kunjung membaik. Israel terus melancarkan serangan dan menghancurkan struktur yang diklaim sebagai fasilitas Hamas, padahal warga sipil tetap menjadi korban terbesar dalam operasi ini.
Baik Hamas maupun Israel saling menuduh melanggar perjanjian, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa serangan Israel belum berhenti, membuat gencatan senjata yang didukung AS jauh dari apa yang disebut sebagai penghentian kekerasan secara utuh.
Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, menegaskan bahwa upaya menghentikan perang panjang di Gaza masih jauh dari kata selesai. Dalam forum internasional Doha Forum, ia menyampaikan bahwa negosiasi gencatan senjata yang dipromosikan Amerika Serikat sedang berada dalam fase sangat genting, karena situasi di lapangan belum benar-benar berubah.
Qatar, yang sejak awal memainkan peran utama sebagai mediator, menilai bahwa apa yang disebut gencatan senjata selama hampir sebulan terakhir lebih mirip jeda sementara dibanding penghentian agresi yang nyata.