Warga Israel berbondong-bondong menuju Tepi Barat Palestina (Foto: Ist)
JAKARTA, (ERAKINI) - Israel terus mendapatkan kecaman dari berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Hal ini menyusul agresi militer Israel terhadap Palestina yang sudah keterlaluan. Bahkan, serangan balasan Israel ke Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu, telah menewaskan 19,453 warga Palestina. Sebelum berperang dengan Hamas, juga memiliki sejarah perseteruan dengan negara-negara tetangganya.
Baru-baru ini, Israel kembali ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia di media sosial. Pemicunya karena 5 pemuda NU bertemu dengan Presiden Israel, Isaac Herzog. Bahkan, perbincangan soal Israel dan NU ini sempat menjadi trending nomor 1 di media sosial X pada Senin (15/7/2024).
Kelima kader NU tersebut dikecam oleh masyarakat Indonesia dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) karena bertentangan dengan visi dan prinsip NU yang telah digaungkan sejak awal kelahirannya, tahun 1926. Belum lagi, dengan sikap resmi Indonesia yang tidak membuka hubungan diplomatik dengan negara zionis tersebut.
Lalu seperti sejarah panjang hubungan Indonesia-Israel? berikut penjelasan yang dirangkum erakini dari berbagai sumber.
Tak punya hubungan diplomatik, tapi jalin hubungan lain
Sejak awal kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Indonesia tidak pernah menjalin hubungan diplomatik secara resmi dengan Israel. Namun, sikap Indonesia yang berada pada posisi non blok atau saat ini disebut sebagai ‘bebas aktif’ memiliki hubungan tidak resmi yang meliputi hubungan dagang, pariwisata, dan keamanan.
Sebut saja tahun 2012, saat itu Indonesia sepakat menaikkan status hubungannya dengan Israel dan membuka konsulat kehormatan di Ramallah yang dipimpin seorang diplomat sederajat duta besar. Diplomat tersebut juga bertugas secara tidak resmi sebagai perwakilan Indonesia saat membina hubungan dengan Israel.
Sayangnya, rencana itu gagal. Kedua negara tidak pernah mewujudkan rencana kerja sama yang sempat dibangun. Hingga saat ini, tidak ada perwakilan Indonesia di Israel atau Otoritas Palestina.
Sementara itu, menurut jajak pendapat BBC World Service tahun 2013, sebanyak 70% responden Indonesia melihat pengaruh Israel secara negatif dan 12% secara positif.
Adapun pengaruh positifnya karena Indonesia membeli lebih dari 30 Douglas A-4 Skyhawk dari Israel pada awal 1980-an meski tidak mengakui atau memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Meski tidak sepenuhnya menentang Israel, Indonesia cenderung tidak mau mencari masalah dengan elemen-elemen di dalam negeri sebagai dukungan terhadap Palestina.
Alasan ini pertama kali diungkapkan oleh Presiden Soekarno yang tidak meladeni pendekatan pejabat-pejabat Israel dan mengadopsi kebijakan pro-Arab sebagai bagian dari sikap antikolonialisnya.
Insiden besar yang melibatkan kedua negara ini adalah penolakan delegasi Israel dan Republik Tiongkok (Taiwan) dalam ajang Asian Games 1962 di Jakarta.
Atas desakan negara-negara Arab dan Republik Rakyat Tiongkok, pemerintah Indonesia menolak menerbitkan visa untuk delegasi Israel dan Taiwan.
Hubungan militer dan intelijen dibuka lewat jalur tidak resmi, khususnya Iran dan Turki, pada tahun 1968. Tahun 1971, pejabat militer Indonesia dan Israel diyakini merintis negosiasi transfer alutsista militer dan intelijen kelompok teroris komunis global.
Pada November 1972, militer Indonesia membeli sejumlah radar kontra baterai untuk akurasi artileri dari BUMN Israel, Israel Military Industries. Bulan Maret 1974, 27 perwira dan 90 anggota ABRI dikirim untuk belajar radar artileri dan pengintaian darat beserta ELINT dan SIGINT bersama Pasukan Pertahanan Israel selama dua bulan.
Bulan Januari 1975, TNI-AL dan TNI-AU mengirim 60 orang ke Israel untuk belajar penyusupan khusus dan operasi rahasia bersama Shayetet 13 dan AL Israel. Pusat Pelatihan Pasukan Khusus didirikan untuk melatih unit-unit kecil Kopassus dalam operasi udara dan laut pada November 1975. Bulan Agustus 1976, Kepala Staf Angkatan Udara Indonesia dan Israel bertemu dalam kunjungan dadakan di Teheran untuk membahas pembelian 35 pesawat tempur Douglas A-4 Skyhawk dari Israel yang dikirim pada tahun 1981-82.
Pada tahun 1993, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin bertemu Presiden Soeharto di kediaman resminya di Jakarta. Pertemuan tidak terjadwal ini terjadi ketika Suharto masih memimpin Gerakan Non-Blok dan tidak lama setelah Persetujuan Damai Oslo. Ini merupakan pertemuan tingkat tinggi pertama antara kedua pemimpin negara tersebut.
Tahun 1999, usai jatuhnya Orde Baru, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab menyatakan ingin membina hubungan dengan Israel meski hanya di sektor ekonomi dan perdagangan.
Tahun 2002, Gus Dur menjelaskan rasa hormatnya terhadap Israel dan memaparkan sebuah pernyataan untuk ditelaah oleh masyarakat Muslim:
“Israel percaya dengan Tuhan. Kita punya hubungan diplomatik sekaligus mengakui Tiongkok dan Rusia, negara-negara tak bertuhan. Aneh rasanya kalau kita tidak mengakui Israel. Ini yang perlu kita perbaiki dalam Islam,” kata Gus Dur saat itu.
Setelah Gus Dur diturunkan dari kursi kepresidenan bulan Agustus 2001, belum ada lagi upaya untuk memperbaiki hubungan antara Indonesia dan Israel.
Demikian pula pada tahun 2005, pemerintah Indonesia mengatakan bahwa pembukaan hubungan diplomatik penuh dengan Israel hanya akan terwujud apabila solusi dua negara sudah tercapai antara Israel dan Palestina.