Ilustrasi penerangan dengan lampu listrik. (Foto: Pixabay.com)
KOTAGAZA, PALESTINA, (ERAKINI) - Hussam al-Attar, seorang remaja berusia 15 tahun yang dijuluki ' dari ' berhasil menerangi di Rafah, Jalur Selatan dengan menggunakan turbin angin tua untuk menghasilkan .
Kepada Anadolu, Hussam mengatakan, "Para pengungsi di kamp menjuluki saya 'Newton dari Gaza', sebagai penghargaan atas upaya saya menerangi tempat itu."
Hussam mengungkapkan, setelah 20 hari dirinya bersama yang lainnya mengungsi ke Rafah dan listrik diputus serta tidak ada sumber energi untuk menerangi tenda-tenda para pengungsi, diaberpikir untuk membuat kincir angin untuk dapat menghilangkan kegelapan di kamp.
"Saya berpikir bagaimana menerangi tempat ini, jadi saya membawa kipas tua dan merakitnya untuk diubah menjadi energi kinetik dari tenaga angin menjadi energilistrik," jelas Hussam sembari memeriksa proyek buatannya di kamp dekat perbatasan dengan Mesir.
Hussam mengatakan bahwa upaya pertamanya gagal dan dibutuhkan 3 kali percobaan dan waktu agar ide tersebut berhasil.
Hussam menggunakan turbin itu untuk menghasilkan listrik dengan dipasang di salah satu tiang besi di dalam kamp.
“Saya berhasil menerangi tempat itu sesekali, karena tempat itu menyala ketika ada angin, dan ketika angin melambat, kegelapan menyelimuti kamp,” katanya.
Ia berharap bisa mendapatkan pasokan untuk mengembangkan proyek tersebut, khususnya baterai, yang memungkinkannya menyimpan energi dan menggunakannya pada saat tidak ada angin.
Pasar-pasar di Rafah, kata dia, langka baterai untuk proyeknya, tetapi dia bersikeras melanjutkan mengembangkan proyek itu meski hanya beroperasi dalam jangka waktu terbatas saat angin kencang.
“Saya langsung menyambungkan instalasi listrik hingga perbekalan dan baterai dapat tersedia untuk menyelesaikan proyek dan mampu menyimpan listrik,” ujarnya.
Hussam mencatat bahwa sebelum pecahnya perang, ia mampu membuat lampu bawah air dan ritsleting pengaman untuk penutupan pintu nirkabel, selain kipas angin untuk mendinginkan suasana musim panas.
Untuk diketahui, Rafah adalah salah satu daerah terpadat di Jalur Gaza, setelah tentara Israel memaksa warga Palestina dari wilayah utara, tengah, dan selatan untuk mengungsi ke sana, tempat sekitar 1,4 juta warga Palestina tinggal, menurut pernyataan sebelumnya dari Walikota Rafah Ahmed al-Soufi.
Sejak 7 Oktober lalu, gempuran yang tak henti-hentinya melanda Gaza telah mengakibatkan kerusakan dan krisis kemanusiaan yang begitu parah. Israel juga telah memutuskan aliran air, listrik dan bahan bakar bagi 2,3 juta warga Palestina yang menderita dalam situasi mengerikan akibat 17 tahun blokade.
Israel kemudian membolehkan bantuan kemanusiaan yang sangat terbatas untuk masuk ke Gaza, termasuk bahan bakar untuk kebutuhan kemanusiaan, tetapi tidak untuk listrik setelah adanya tekanan internasional. (ant)