Sebanyak 179 orang dipastikan tewas dalam kecelakaan pesawat Jeju Air di landasan pacu Bandara Internasional Muan, Korea Selatan, Minggu (29/12/2024). Foto: AP
JAKARTA, (ERAKINI) - Sebanyak 179 orang dipastikan tewas dalam kecelakaan pesawatJeju Air di landasan pacu Bandara Internasional Muan, Korea Selatan, Minggu (29/12/2024). Dengan demikian, semua penumpang kecuali dua kru dari 181 orang di dalamnya, dinyatakan tewas dalam bencana penerbangan terburuk di negara itu.
"Sebanyak 179 orang, 85 wanita, 84 pria, dan 10 orang lainnya yang jenis kelaminnya belum dapat diidentifikasi, tewas dalam kebakaran tersebut," ujar Badan Pemadam Kebakaran Korea Selatan, dikutip dari kantor berita
Disebutkan, petugas darurat hanya berhasil menyelamatkan dua orang. Keduanya merupakan kru pesawat dan kini sedang dirawat di rumah sakit. Pejabat Kesehatan setempat memastikan keduanya dalam keadaan sadar atau tidak dalam kondisi yang mengancam jiwa.
Di antara 177 jenazah yang ditemukan sejauh ini, petugas telah mengidentifikasi 88 di antaranya. Para korban sebagian besar adalah warga Korea Selatan, serta dua warga negara Thailand.
Ju Woong, Direktur Rumah Sakit Universitas Wanita Ewha Seoul, tempat salah satu korban selamat dirawat, mengatakan, pria itu masih dirawat di unit perawatan intensif karena mengalami patah tulang rusuk, tulang belikat, dan tulang belakang bagian atas.
Pesawat Jeju Air jenis jet Boeing 737-800 itu terbakar hebat saat mendarat di Bandara Muan, sekitar 290 kilometer (180 mil) selatan Kota Seoul. Kementerian Perhubungan setempat mengatakan pesawat yang baru berusia 15 tahun itu tiba dari Bangkok, Thailand, dengan membawa 181 kru dan penumpang.
Badan pemadam kebakaran mengerahkan 32 mobil pemadam kebakaran dan beberapa helikopter untuk memadamkan api. Sekitar 1.570 petugas pemadam kebakaran, polisi, tentara, dan pejabat lainnya juga dikirim ke lokasi kejadian.
Rekaman kecelakaan yang ditayangkan oleh saluran televisi Korea Selatan menunjukkan pesawat tergelincir melintasi landasan udara dengan kecepatan tinggi, tampak dengan roda pendaratan yang masih tertutup.
Pesawat kemudian melewati landasan pacu dan dengan cepat menabrak dinding beton di pinggiran landasan hingga memicu ledakan. Stasiun TV lokal lainnya menayangkan rekaman yang menunjukkan gumpalan asap hitam tebal mengepul dari pesawat yang dilalap api.
Lee Jeong-hyeon, Kepala Stasiun Pemadam Kebakaran Muan, mengatakan dalam jumpa pers di televisi bahwa pesawat hancur total, hanya bagian ekor yang masih bisa dikenali di antara reruntuhan. Kata dia, pekerja sedang menyelidiki berbagai kemungkinan tentang apa yang menyebabkan kecelakaan itu. "Termasuk apakah pesawat itu ditabrak burung," kata Lee.
Pejabat Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan penilaian awal mereka terhadap catatan komunikasi yang menunjukkan menara kontrol bandara mengeluarkan peringatan serangan burung ke pesawat itu sesaat sebelum mendarat, dan memberikan izin kepada pilot untuk mendarat di area yang berbeda.
"Pilot mengirimkan sinyal marabahaya sesaat sebelum pesawat melewati ujung landasan pacu dan meluncur melintasi zona penyangga sebelum menabrak dinding," kata pejabat itu.
Pejabat senior Kementerian Perhubungan Joo Jong-wan mengatakan, para pekerja telah mengambil data penerbangan dan perekam suara kokpit dari kotak hitam pesawat, yang akan diperiksa oleh para ahli pemerintah yang menyelidiki penyebab kecelakaan dan kebakaran itu. Hanya, kata dia, butuh waktu berbulan-bulan bagi para penyelidik untuk menyelesaikan penyelidikan mereka. Adapun landasan pacu di Bandara Muan akan ditutup hingga 1 Januari 2025.