Para jamaah berjalan di luar setelah misa Malam Natal di Gereja Katolik Roma Gereja Keluarga Kudus di lingkungan Zaytoun di Kota Gaza pada 24 Desember 2024. (Foto: AFP)
KOTA GAZA, (ERAKINI) - Ratusan umat Kristiani di Kota Gaza yang dilanda perang berkumpul di sebuah gereja pada hari Selasa (24/12/2024), berdoa untuk diakhirinya perang yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah .
Selama puluhan tahun, hilang sudah gemerlap lampu, dekorasi pesta dan pohon Natal menjulang tinggi yang menghiasi Kota Gaza. Alun-Alun yang dulu dipenuhi dengan semangat musim, kini menjadi reruntuhan, menjadi puing-puing akibat serangan udara Israel yang tak henti-hentinya.
Melansir Arab News, umat Kristiani di tengah reruntuhan mencari penghiburan bahkan ketika pertempuran terus berkecamuk di sepanjang garis pantai pada hari Selasa (24/12/2024).
George Al-Sayegh, yang selama berminggu-minggu mencari perlindungan di Gereja Ortodoks Yunani Saint Porphyrius abad ke-12 mengatakan, “Natal kali ini membawa bau kematian dan kehancuran. Tidak ada kegembiraan, tidak ada semangat pesta. Kami bahkan tidak tahu siapa yang akan bertahan hingga liburan berikutnya.”
Sebagian dari gereja itu sendiri hancur akibat serangan udara Israel pada Oktober tahun lalu, yang menewaskan 18 warga Kristen Palestina, menurut kementerian kesehatan wilayah tersebut.
Sekitar 1.100 umat Kristiani tinggal di Gaza, sebuah komunitas yang juga menghadapi dampak terberat perang sejak 7 Oktober tahun lalu, ketika pertempuran antara Israel dan Hamas pecah.
Serangan udara Israel baru-baru ini, termasuk yang menewaskan beberapa anak menurut badan pertahanan sipil wilayah tersebut, mendapat kecaman keras dari Paus Fransiskus.
“Dengan penuh rasa sakit saya memikirkan Gaza, tentang kekejaman yang begitu besar, tentang anak-anak yang ditembak dengan senapan mesin, tentang pemboman terhadap sekolah dan rumah sakit. Sungguh kejam,” kata Paus Fransiskus setelah doa Angelus mingguannya pada hari Minggu.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengecam komentar Paus tersebut, dengan mengatakan bahwa komentar tersebut menunjukkan “standar ganda.”
Namun rasa sakit dan kesedihan terlihat jelas di Gaza, dan bagi warga Kota Gaza, Kamal Jamil Caesar Anton, perayaan Natal dirusak oleh kesedihan yang mendalam.
Desember lalu, istrinya Nahida dan putrinya Samar terbunuh oleh tembakan penembak jitu Israel di dalam kompleks Gereja Keluarga Kudus, katanya. “Kami berdoa untuk perdamaian, perang segera berakhir, sehingga masyarakat dapat hidup aman,” kata Anton.
Sentimennya juga diamini oleh warga Ramez Al-Souri yang juga mengalami tragedi pahit selama serangan udara yang melanda Gereja Saint Porphyrius. Ketiga anaknya termasuk di antara mereka yang tewas dalam serangan itu. “Kami masih menderita. Kami tidak merayakannya tahun lalu karena kehancuran,” kata Souri.
“Tahun ini kami berharap perang berakhir, namun setiap hari kami kehilangan orang-orang tercinta.”
Pemimpin komunitas Kristen setempat, George Anton, berharap pihak yang bertikai segera mengakhiri pertempuran. “Kami menyerukan semua pihak untuk mengakhiri perang dan mencari jalan yang benar menuju perdamaian. Kami berharap kedua bangsa dapat hidup harmonis dan aman,” katanya.