Ibu dan kerabat lainnya dari seorang remaja Palestina berusia 15 tahun yang tewas akibat tindakan pasukan Israel dalam sebuah penggerebekan meratapi jenazahnya di sebuah rumah sakit di Ramallah, Tepi Barat yang diduduki Israel. (Foto: Reuters).
GAZA, (ERAKINI) – Gelombang serangan militer Israel kembali mengguncang Jalur Gaza pada Senin (30/6/2026), menewaskan sedikitnya delapan warga Palestina, termasuk dua anak-anak, serta menyebabkan lebih dari 20 orang mengalami luka-luka. Informasi tersebut disampaikan otoritas kesehatan dan tim layanan darurat setempat.
Di wilayah Khan Younis, bagian selatan Gaza, sebuah serangan menghantam tenda pengungsian di kawasan Al-Mawasi setelah adanya peringatan evakuasi. Insiden itu merenggut nyawa seorang perempuan berusia 23 tahun bersama putrinya yang masih berusia satu tahun. Keterangan tersebut disampaikan oleh pihak Rumah Sakit Nasser yang menerima korban.
Pada hari yang sama, serangan lainnya terjadi di Kota Qarara, yang berada di barat laut Khan Younis. Seorang pria berusia 31 tahun dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Menurut pihak Rumah Sakit Nasser, korban baru beberapa bulan menjalani kehidupan rumah tangga dan meninggalkan istrinya yang tengah mengandung.
Masih di kawasan Khan Younis, serangan terpisah menghantam tenda-tenda yang digunakan para pengungsi di sepanjang garis pantai. Dua orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 13 lainnya mengalami luka-luka. Korban yang terluka kemudian dievakuasi ke rumah sakit lapangan yang dikelola Bulan Sabit Merah Palestina di Al-Mawasi.
Sementara itu, wilayah Deir Al-Balah di Gaza tengah juga menjadi sasaran serangan pesawat tanpa awak atau drone. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina, termasuk seorang anak laki-laki berusia delapan tahun dan kakeknya.
Otoritas kesehatan Gaza menyebut serangan drone itu terjadi di salah satu kawasan yang selama ini relatif lebih sedikit mengalami kerusakan dibanding wilayah lain di Gaza tengah. Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa mengidentifikasi korban meninggal sebagai Hassan Al-Hanagra, cucunya Malik Abu Shawish yang berusia delapan tahun, serta seorang pria lainnya.
Menurut keterangan pihak rumah sakit, Malik saat itu sedang berada di tenda ibunya ketika serangan terjadi. Anak tersebut diketahui berasal dari keluarga yang orang tuanya telah berpisah. Ibunya termasuk salah satu dari tujuh korban luka dalam insiden tersebut.
Militer Israel mengakui serangan tersebut ditujukan kepada seorang militan. Namun hingga saat ini, pihak militer belum mengungkap identitas target maupun memastikan apakah orang yang menjadi sasaran berhasil terbunuh.
Di sisi lain, militer Israel menyatakan bahwa serangan yang dilakukan pada Minggu (29/6/2026) di Gaza selatan menewaskan Zaher Abu Salem. Israel menyebutnya sebagai anggota kelompok Jihad Islam yang diduga terlibat dalam serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, peristiwa yang menjadi pemicu utama pecahnya perang di Gaza.
Pada hari Minggu, empat warga Palestina juga dilaporkan tewas dalam sejumlah serangan di berbagai lokasi di Gaza. Salah satu korban adalah Eileen Al-Farra, gadis berusia 13 tahun yang meninggal setelah terkena serpihan proyektil dari tembakan tank Israel. Jenazahnya dimakamkan pada Senin.
Meski intensitas pertempuran menurun sejak diberlakukannya gencatan senjata pada Oktober lalu, operasi militer Israel masih berlangsung hampir setiap hari. Menurut otoritas kesehatan Gaza, sebanyak 1.045 warga Palestina telah tewas sejak masa gencatan senjata, termasuk lebih dari 360 perempuan dan anak-anak.
Israel berulang kali menegaskan bahwa operasi militernya ditujukan untuk memburu kelompok-kelompok bersenjata yang dinilai masih merencanakan serangan terhadap pasukannya. Saat ini, militer Israel disebut menguasai lebih dari 60 persen wilayah Jalur Gaza. Sejak gencatan senjata berlaku, lima tentara Israel juga dilaporkan tewas akibat serangan kelompok militan.
Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah administrasi Hamas terus mendokumentasikan jumlah korban perang secara rinci. Data kementerian tersebut selama ini kerap dijadikan rujukan oleh badan-badan PBB maupun sejumlah pengamat independen, meskipun tidak memisahkan angka korban sipil dan kombatan.
Berdasarkan data terbaru kementerian tersebut, jumlah warga Palestina yang tewas akibat operasi militer Israel sejak perang dimulai telah melampaui 73.058 orang, termasuk korban yang jatuh setelah gencatan senjata diberlakukan. Sebaliknya, serangan Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023 menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang disandera.
Ketegangan juga terus berlangsung di Tepi Barat yang diduduki Israel. Dalam sejumlah operasi penggerebekan yang dilakukan pasukan Israel pada Senin, seorang remaja Palestina berusia 15 tahun dilaporkan tewas akibat luka tembak di bagian kepala di dekat Ramallah.
Kementerian Kesehatan Palestina mengidentifikasi korban sebagai Amir Jaber, remaja asal Yerusalem. Bulan Sabit Merah Palestina menyatakan tim medis sempat berupaya melakukan resusitasi di lokasi sebelum korban akhirnya dievakuasi ke rumah sakit.
Selain itu, dua warga Palestina lainnya dilaporkan mengalami luka tembak dalam operasi militer Israel di sekitar Hebron, kota terbesar di Tepi Barat.
Hingga laporan ini disusun, militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Menurut laporan kantor berita Palestina WAFA, operasi di sekitar Ramallah merupakan satu dari sedikitnya enam penggerebekan yang dilakukan pasukan Israel di berbagai wilayah Tepi Barat sepanjang hari Senin.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) sebelumnya melaporkan bahwa sedikitnya 59 warga Palestina telah kehilangan nyawa akibat tindakan pemukim maupun operasi militer Israel di Tepi Barat sejak awal tahun ini.