Aktivis Italia dari Armada Global Sumud yang menuju Gaza, Ilaria Del Mastro, seorang perawat di Rumah Sakit San Giovanni Addolorata, memberi isyarat saat tiba di Bandara Istanbul, setelah ditahan oleh pasukan Israel usai kapal-kapal tersebut dicegat di perairan internasional di Laut Mediterania, 21 Mei 2026. (Foto: Reuters).
YERUSALEM, (ERAKINI) – Ketegangan internasional kembali meningkat setelah mendeportasi ratusan aktivis asing yang ditangkap saat mencoba menembus blokade melalui armada kemanusiaan. Kepulangan gelombang pertama aktivis ke Turki pada Kamis (21/5/2026) disambut kecaman global terhadap perlakuan aparat selama penahanan mereka.
Pemerintah Israel sebelumnya mencegat armada bantuan di perairan internasional pada Senin (18/5/2026) lalu. Operasi tersebut berujung pada penahanan ratusan aktivis dari berbagai negara yang berlayar menuju Gaza sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina.
Menurut sumber Kementerian Luar Negeri Turki, sebanyak 422 aktivis, termasuk 85 warga negara Turki, diterbangkan dari wilayah selatan Israel menggunakan tiga pesawat sewaan pemerintah Ankara.
Kedatangan mereka di Bandara Istanbul disambut ratusan pendukung yang membawa bendera Palestina dan meneriakkan dukungan bagi perjuangan Gaza.
Salah seorang aktivis asal Turki, Bulal Kitay, mengaku dirinya dan para peserta lain mengalami kekerasan fisik selama penahanan oleh pasukan Israel. “Perempuan maupun laki-laki dipukuli. Apa yang kami alami hanyalah sebagian kecil dari penderitaan yang dialami rakyat Palestina setiap hari,” ujarnya setelah tiba di Istanbul.
Pernyataan tersebut semakin memperbesar sorotan dunia terhadap perlakuan Israel terhadap para aktivis. Kecaman internasional memuncak setelah Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan jauh, Itamar Ben Gvir, mengunggah video kontroversial yang memperlihatkan aktivis ditahan dengan tangan terikat dan kepala menunduk ke tanah.
Video tersebut memicu reaksi keras dari berbagai negara dan bahkan mendapat kritik dari internal pemerintahan Israel sendiri, termasuk dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Gideon Saar.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, menyatakan seluruh aktivis asing dari armada tersebut telah dideportasi dan menegaskan bahwa Israel tidak akan membiarkan pelanggaran terhadap blokade laut Gaza.
Namun, sejumlah aktivis tetap menyuarakan perlawanan setibanya di Turki. “Rakyat Palestina tidak sendirian. Kami ditangkap, dipukuli, dan disiksa di perairan internasional, tetapi kami tidak akan menyerah,” teriak salah satu aktivis yang disambut sorak dukungan massa.
Lembaga bantuan hukum Adalah yang mewakili para aktivis mengungkapkan bahwa sebagian besar peserta armada sempat ditahan di Penjara Ktziot, Gurun Negev, dekat Gaza. Menurut Adalah, sejumlah aktivis juga mengalami luka serius. Beberapa di antaranya bahkan harus menjalani perawatan medis akibat ditembak peluru karet dan diduga mengalami cedera tulang rusuk.
Seorang jurnalis Italia, Alessandro Mantovani, yang turut ditahan dalam operasi tersebut mengaku mendapat perlakuan kasar saat dibawa menuju bandara deportasi. “Kami diborgol, kaki dirantai, lalu dipukul, ditendang, dan diteriaki ‘Selamat datang di Israel’,” ungkapnya kepada wartawan di Italia.
Armada tersebut merupakan bagian dari Freedom Flotilla Coalition yang berusaha menembus blokade Gaza melalui sekitar 50 kapal bantuan dari Turki. Aksi tersebut menjadi upaya terbaru aktivis internasional untuk mengirim bantuan kemanusiaan ke Gaza setelah konvoi sebelumnya juga dicegat Israel bulan lalu.
Gelombang kecaman terhadap Israel terus meluas. Pemerintah Italia dan Spanyol bahkan mendesak Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada Itamar Ben Gvir atas video yang dianggap menghasut dan mempermalukan para aktivis. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menyebut perlakuan terhadap para aktivis “tidak dapat diterima”.
Sementara itu, Perdana Menteri Irlandia, Micheal Martin, dilaporkan mendesak Uni Eropa mempertimbangkan langkah lebih keras terhadap Israel, termasuk kemungkinan pembatasan hubungan dagang. Pemerintah Inggris juga memanggil diplomat senior Israel menyusul beredarnya video yang dinilai provokatif tersebut.
Blokade Israel terhadap Gaza sendiri telah berlangsung sejak 2007 dan semakin memperburuk kondisi kemanusiaan sejak pecahnya perang Gaza pascaserangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Wilayah Gaza hingga kini masih mengalami krisis pangan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya akibat pembatasan bantuan yang dilakukan Israel.