JAKARTA, (ERAKINI) – Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbia Iran membeberkan perkembangan terbaru operasi militer balasan terhadap Israel dan Amerika Serikat (AS) yang memasuki hari ke-26 dalam rangkaian Operasi True Promise 4.
Dalam keterangannya dilansir kantor berita Tasnim, Kamis (26/3/2026), juru bicara itu menyebut pada gelombang ke-79 yang berlangsung pada Rabu (25/3/2026), pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bersama Angkatan Laut IRGC menargetkan sejumlah fasilitas strategis Israel dan AS.
Sasaran tersebut meliputi stasiun penerima satelit yang terkait dengan militer Israel, Pangkalan Udara Al Azraq (Muwaffaq Salti), Shaikh Isa, Ali Al Salem, serta pangkalan militer AS di Camp Arifjan.
Operasi itu menggunakan sistem rudal jarak jauh dan menengah berbahan bakar padat dan cair, serta drone penghancur dalam operasi yang berkelanjutan dan berdampak besar.
“Pusat-pusat strategis, militer, dan keamanan rezim Israel di wilayah utara Palestina yang diduduki menjadi sasaran serangan dalam gelombang ke-80 Operasi True Promise 4, di tengah gempuran rudal intensif dan berkelanjutan dari Pasukan Dirgantara IRGC, yang bertepatan dengan ofensif besar Perlawanan Islam Hizbullah,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa rudal Emad, Qiam, Khorramshahr-4, dan Qadr berhasil menghantam lebih dari 70 lokasi di wilayah Israel dalam gelombang ke-81 Operasi True Promise 4, termasuk wilayah penting seperti Haifa, Dimona, dan Hadera.
Juru bicara tersebut juga menyebutkan bahwa sebuah pesawat tempur F-18 Amerika berhasil ditembak di dekat kota Chabahar di tenggara Iran oleh sistem pertahanan udara canggih Angkatan Laut IRGC, di bawah kendali jaringan pertahanan udara terpadu negara tersebut.
Dalam 24 jam terakhir, pasukan Iran terus melanjutkan operasi dengan menargetkan lokasi berkumpulnya pasukan Amerika dan kelompok separatis yang didukung oleh kekuatan Amerika-Zionis di Erbil menggunakan rudal.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa rudal jelajah yang diluncurkan dari sistem pesisir Qadeer menuju kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln oleh angkatan laut Iran menyebabkan kapal perang Amerika tersebut mengubah posisinya.
Amerika Serikat dan rezim Israel masih terus melancarkan kampanye militer besar-besaran tanpa provokasi terhadap Iran setelah pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari lalu.
Serangan tersebut mencakup serangan udara luas terhadap target militer dan sipil di berbagai wilayah Iran, yang mengakibatkan banyak korban jiwa serta kerusakan infrastruktur.
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan operasi balasan dengan menargetkan posisi Amerika Serikat dan Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan-pangkalan regional melalui gelombang serangan rudal dan drone.