Komandan Angkatan Udara Israel Tomer Bar memecat para anggota aktif yang ikut menandatangani surat desakan kepada pemerintah Israel untuk segera mengakhiri perang di Jalur Gaza dan membebaskan para sandera. (Foto: Times of Israel).
YERUSALEM, (ERAKINI) - Komandan Angkatan Udara memutuskan untuk memecat para anggota aktif yang ikut menandatangani surat desakan kepada pemerintah untuk segera mengakhiri perang di Jalur dan membebaskan para sandera yang ditawan.
Pemecatan itu menyusul penandatanganan oleh lebih dari 250 mantan pejabat badan intelijen MossadIsrael terhadap surat tersebut. Demikian dilaporkan Kan TV News milik pemerintah Israel pada Minggu (13/4/2025).
Menurut laporan tersebut, para penandatangan surat tersebut meliputi tiga mantan kepala Mossad: Danny Yatom, Efraim Halevy, dan Tamir Pardo, serta puluhan pejabat veteran lainnya dalam dinas tersebut.
Para mantan anggota Mossad tersebut mengatakan, "Pertempuran yang terus berlanjut membahayakan nyawa para sandera dan tentara kami, dan setiap kemungkinan harus diupayakan untuk mencapai kesepakatan yang akan mengakhiri penderitaan. Kami menyerukan kepada pemerintah untuk membuat keputusan yang berani dan bertindak secara bertanggung jawab demi keamanan negara."
Mereka menyatakan dukungan bagi ratusan anggota awak pesawat militer, baik yang masih bertugas sebagai cadangan maupun yang sudah pensiun, yang menandatangani surat serupa, yang menyerukan penghentian permusuhan dan pemulangan para sandera.
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mendukung keputusan pemecatan tersebut dan mengecam keras surat-surat tersebut, dengan menyebut para penanda tangan sebagai "kelompok ekstremis pinggiran" yang berusaha "memecah masyarakat Israel dari dalam."
Pada hari Minggu, sekitar 200 dokter militer Israel menandatangani petisi dengan tuntutan yang sama untuk menghentikan pertempuran dan membawa pulang para sandera, menurut beberapa media yang menerbitkan salinan surat tersebut.
"Pertempuran yang terus berlanjut di Gaza terutama ditujukan untuk melayani kepentingan politik dan pribadi, tanpa tujuan keamanan apa pun, dan membahayakan nyawa tentara dan sandera," katanya.
Hamas membawa 251 sandera ke Gaza selama serangannya pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan. Saat ini, 59 sandera Israel masih berada di Gaza, dengan 24 di antaranya diyakini masih hidup.
Sebelumnya, Israel dan Hamas mencapai kesepakatan gencatan senjata 3 fase untuk para sandera pada bulan Januari. Namun, negosiasi pada fase kedua menemui jalan buntu setelah fase enam minggu pertama berakhir pada tanggal 1 Maret. Israel kemudian melanjutkan operasi militer di Gaza pada tanggal 18 Maret di tengah kebuntuan gencatan senjata.