YERUSALEM, (ERAKINI) - Pemerintah Israel pada Selasa (17/3/2026) mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan mengklaim telah menewaskan tokoh penting keamanan Iran, Ali Larijani. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menyebut Larijani sebagai figur kunci dalam sistem kekuasaan Republik Islam.
Namun hingga saat ini, pihak Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait kabar tersebut, sehingga klaim ini masih menjadi perdebatan di tingkat internasional.
Kabar dugaan tewasnya Larijani muncul di tengah eskalasi konflik yang semakin luas di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, serangan gabungan yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, meski informasi ini juga belum sepenuhnya terverifikasi secara independen.
Jika benar, rangkaian peristiwa ini menjadi pukulan besar bagi struktur kekuasaan Iran dan berpotensi mengguncang stabilitas regional serta pasar global.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa Larijani ‘telah dieliminasi’ sementara Netanyahu menyebutnya sebagai sosok yang menjalankan kendali strategis di balik pemerintahan Iran.
Di sisi lain, laporan dari lapangan menyebutkan adanya ledakan di Teheran pada hari yang sama. Meski begitu, belum ada bukti kuat yang secara langsung mengaitkan insiden tersebut dengan kematian Larijani.
Sosok Penting di Balik Kebijakan Iran
Larijani dikenal sebagai figur berpengaruh dalam lingkar kekuasaan Iran selama bertahun-tahun. Ia memiliki peran besar dalam kebijakan nuklir, strategi pertahanan, serta hubungan diplomatik negara tersebut.
Pengamat Timur Tengah seperti David Khalfa menyebut Larijani sebagai “orang kepercayaan” yang menjalankan kebijakan strategis di balik layar, bahkan setelah munculnya pemimpin baru, Mojtaba Khamenei.
Konflik yang terus meningkat telah meluas ke berbagai wilayah, termasuk Lebanon dan kawasan Teluk. Kelompok yang didukung Iran seperti Hizbullah juga dilaporkan terlibat dalam serangan balasan terhadap Israel.
Sementara itu, ketegangan di jalur strategis seperti Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi global.
Presiden AS, Donald Trump, bahkan mengakui ketidakpastian situasi dengan menyatakan bahwa pihaknya belum mengetahui secara pasti kondisi pemimpin tertinggi Iran saat ini.
Hingga kini, berbagai klaim yang muncul masih belum sepenuhnya terverifikasi. Ketegangan politik dan militer di kawasan Timur Tengah pun terus meningkat, dengan potensi dampak besar terhadap stabilitas global.
Perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan arah konflik, apakah menuju eskalasi lebih luas atau justru membuka peluang deeskalasi.