Setidaknya 100 orang tewas pada Sabtu (10/8/2024) pagi ketika tentara Israel menargetkan sekolah tempat pengungsi Palestina sedang melaksanakan salat subuh, kata Kantor Media Pemerintah. (Foto: Anadolu)
KOTA GAZA, (ERAKINI) – Pembantaian oleh tentara Israel pada Sabtu (10/8/2024) pagi yang menargetkan sekolah tempat pengungsi Palestina telah menewaskan 100 orang. Pembantaian ini bertepatan dengan “kehancuran total sistem kesehatan di utara,” sehingga tidak ada rumah sakit di provinsi dan wilayah utara yang mampu menangani korban dalam jumlah besar.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Kantor Media Pemerintah di Gaza Ismail Thawabteh dilansir dari Anadolu, Senin (12/8/2024). Dia juga menyoroti kekurangan obat-obatan, tempat tidur, dan pasokan medis yang diperlukan untuk merawat korban luka.
Setidaknya 100 orang tewas pada Sabtu (10/8/2024) pagi ketika tentara Israel menargetkan sekolah tempat pengungsi Palestina sedang melaksanakan salat subuh, kata Kantor Media Pemerintah
Ia mengatakan bahwa pesawat Israel menargetkan Sekolah Al-Taba'een di Kota Gaza, yang menampung lebih dari 6.000 pengungsi, dengan 3 bom besar. Dalam pernyataannya kepada Anadolu, Ismail Thawabteh mengatakan pesawat tempur Israel menjatuhkan tiga bom, masing-masing berbobot 2.000 pon (lebih dari 900 kg) di sekolah tersebut.
Serangan tersebut mengakibatkan korban jiwa sedikitnya 100 orang, dan puluhan lainnya menderita luka parah, termasuk amputasi.
Thawabteh mengatakan bahwa Sekolah Al-Taba'een adalah tempat perlindungan ke-175 yang menjadi sasaran pasukan Israel sejak awal perang yang menghancurkan tersebut, dengan 155 di antaranya merupakan sekolah yang diserang secara langsung.
Dia menganggap pendudukan Israel dan pemerintah AS bertanggung jawab penuh atas “pembantaian” tersebut dan meminta masyarakat internasional untuk “menekan Israel dan AS untuk menghentikan pembantaian dan kampanye genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina.”
Meskipun ada seruan pada hari Kamis dari para mediator, termasuk Mesir, Amerika Serikat, dan Qatar, untuk menghentikan permusuhan, mencapai gencatan senjata, dan perjanjian pertukaran sandera, Israel tetap melakukan serangan mematikannya di Jalur Gaza.
Serangan Israel terhadap Jalur Gaza telah menewaskan hampir 39.800 orang sejak Oktober lalu menyusul serangan lintas batas yang dilakukan kelompok perlawanan Palestina Hamas.
Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ), yang memerintahkan negara tersebut untuk segera menghentikan operasi militernya di kota selatan Rafah, tempat lebih dari 1 juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum diserbu pada tanggal 6 Mei 2024.